Berdagang, berusaha, dan bekerja tentu saja adalah hal baik,
bahkan dalam islam bekerja termasuk ibadah. Namun, di jaman sekarang yang sawah
dan kebun-kebun lebih banyak ditanam beton-beton bangunan. Lalu bangunan apartemen dan hotel dianggap kemajuan. Orang-orang berangkat kerja pagi buta,
pulang petang hari. Istirahat di kotak-kotak apartemen lalu disebut inilah
peradaban tinggi manusia.
Saat ini berdagang dengan jujur jadi barang langka, bisnis
yang fair sulit ditemukan, bekerja dengan amanah dan ikhlas sulit dijumpai.
Tapi, jika ada yang berkuasa atas sesamanya dianggap normal.
Orang-orang juga
tidak ada yang mengeluh, semua berjalan
seperti semua baik-baik saja.
Orang yang baru merintis usaha akan dianggap aneh jika tidak
memulai dan menjalankan bisnisnya dengan cara orang kebanyakan. Jika mau cepat
sukses berbisnis, tidak cepat gulung tikar, dan dianggap normal, bisa ikuti
arus jaman ini.
Jaman dimana memberi gaji karyawan sesuai aturan upah
minimum yang diterapkan pemerintah adalah keniscayaan, diolok,
disalah-salahkan. Sedangkan mereka dengan dalih ikut berperan serta
mengentaskan pengangguran dengan membuka lowongan kerja justru membayar pekerja
dengan upah minim. Karyawannya bekerja hari demi hari, tidak lagi menganggur
namun sekarang hutang bukannya berkurang tapi malah menumpuk.
Jaman dimana memberi aturan jam kerja sesuai dengan aturan
pemerintah adalah kegoblokan, ketololan, dan kemunduran. Sedangkan mereka
dengan dalih meningkatkan produktifitas dan kesejahteraan karyawan justru memperkerjakan
karyawan sampai overtime. Kerja terus sampai mati!
Jaman dimana memberi ruang kepada karyawan, tidak ada
rahasia, dan justru berusaha menggali ide dan inovasi dari karyawan adalah
sebuah jalan bunuh diri, bodoh, dan salah. Sedangkan mereka dengan dalih
menjaga rahasia resep perusahaan, selalu bersikap waspada, penuh curiga, dan
seolah jalan rizkinya sudah dia temukan dan dia kini kuasa atas jalan rizkinya
tersebut.
Orang-orang berbondong bondong menjadi enterpreuner,
anak-anak muda mulai dari yang dikota sampai yang didesa berlomba lomba
berwirausaha. Mereka berjibaku, tak tau pasti apa juga yang sebenarnya sedang
mereka kejar. Sederhananya, mereka juga ingin ikut merasakan menjadi orang kaya
seperti para pebisnis yang selalu para motivator eluh eluhkan.
Guru ingin jadi pebisnis, PNS ingin jadi pebisnis, Petani
ingin jadi pebisnis, Polisi ingin jadi pebisnis, semua orang bercita-cita ingin
jadi pebisnis. Tak peduli apa latar belakang pendidikannya, toh banyak juga
lulusan universitas bekerja tidak sesuai jurusannya. Pokoknya yang bisa kaya,
di sanalah cita-cita digantungkan.
Cara apapun untuk mendapatkan uang lebih banyak adalah
inovasi, cara apapun untuk mempertahankan kekayaan adalah ide. Lebih banyak
orang yang memeras keringat untuk pebisnis adalah kecerdasan. Uang bekerja
untuk uang adalah kegeniusan.
Orang yang bercukupan adalah kemalasan, orang yang terlalu
dermawan adalah kebodohan. Lebih memeras keringat sendiri demi hasil yang tidak
seberapa adalah kesia-siaan. Menabung dan terus bekerja adalah ketololan.
***
Saat ini pedagang tidak pernah menggunakan atau memakan
dagangannya sudah biasa. Petani makan dari membeli hasil panen negara lain
sudah lumrah. Para pebisnis begitu ketat perhitungannya sampai lupa pada diri
sendiri, saudara, dan tetangganya.
Mereka selalu merasa kekurangan, padahal mereka lebih
berkecukupan daripada yang lain. Mereka selalu merasa target kurang tinggi,
omzet masih kecil, pasar masih kecil, dan lain sebagainya. Tapi, menebus hasil
pertanian dengan harga yang sangat-sangat murah, membayar karyawan dengan upah
minim malah bangga, bisa memperkaya diri malah dipamer-pamerkan, punya kawan motivator bisnis (padahal tak
punya bisnis sendiri) di omong-omongkan.
Orang-orang seolah membangun padahal sebenarnya sedang
melakukan penghancuran besar-besaran. Orang-orang seperti berlomba memperkaya
diri, tapi sebenarnya mereka sedang memupuk kemiskinan. Buat apa uang milyaran,
berlebih-lebihan makanan tapi masih banyak saudara yang kelaparan. Buat apa
bangunan-bangunan besar dibangun kalau masih banyak tukang-tukang becak dan
gelandangan yang masih tidur di pinggir-pinggir jalan.
****
Usaha, bisnis atau pekerjaan macam itukah yang menjadi
amalan ibadah?
Orang-orang bekerja dalam niat ibadah sekarang tidak ada
peminatnya. Bahkan, dilirik saja tidak. Sekalinya pun terlihat, orang-orang
yang bekerja dengan niat ibadah malah dimanfaatkan, digaji rendah, dijadikan
garda depan dalam pekerjaan yang berat dan penuh resiko, dll.
Karena mereka bekerja sepenuh hati, ikhlas, dan tidak
menuntut macam-macam. Tapi, bukan berarti mereka bisa diperlakukan semena-mena.
Bukankah, harusnya orang-orang macam ini sebaiknya diberikan penghargaan yang
tinggi, jabatan yang pantas, dan tentu saja gaji yang layak.
Mereka yang berbisnis dengan niatan ibadah juga biasanya
melihat rizki bukanlah sesuatu yang perlu dirisaukan. Mereka memulai dari
melakukan usaha yang banyak manfaatnya, minim mudorotnya. Mereka tidak
terlampau memaksa diri dengan target hari ini harus laku berapa atau berapa
tahun wajib sudah kaya, dll. Mereka cukup melakukan perhitungan-perhitungan
disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Ketika sudah cukup ya mereka simpan sisa
penghasilannya, jika ada lebih mereka akan berikan ke orang yang membutuhkan.
Namun, orang-orang dengan proses yang lebih panjang.
Istiqomah dalam kebaikan-kebaikan yang lebih terjal jalannya. Selalu tidak
banyak yang mau melaluinya. Kebanyakan orang mencari jalan yang paling cepat
untuk mencapai hasil paling kaya. Dalihnya, nanti juga kalau sudah kaya bisa
bantu orang yang lebih banyak; bikin panti asuhan, yayasan, dll.
Bagaimana bisa membantu orang lain, sedangkan menjalankan
hidup dengan melakukan kerusakan-kerusakan yang dibungkus dengan kemajuan dan
pembangunan. Baru niat membantu sedikit sudah ngomong-ngomong tapi sudah
merusak banyak hal disembunyikan dan ditutupi rapat-rapat.
Di jaman seperti ini, jaman dimana ikut mencari rizki yang
haram, riba, dan tidak berkah saja susah. Apalagi rizki yang halalan toyiban. Tidak
ikut dalam arus aja sudah sangat baik. Setidaknya bisa meletakan niat dan dasar
tujuan sebaik-baiknya dalam setiap perilaku kehidupan, termasuk juga dalam hal
pekerjaan, sudah merupakan kontribusi untuk tidak ikut-ikutan merusak dan
melakukan kemunduran di dunia ini. Minimal mencari berkah untuk diri sendiri.
Meskipun susah, pastilah masih dan akan terus bertambah
banyak orang-orang yang dengan sabar dan ikhlas dalam menjalankan setiap
usahanya atas niatan ibadah dan dasar mencari keberkahan. Semoga kita bisa
menjadi salah satu diantaranya. Amin ya rabbal alamin.
0 comments:
Post a Comment