kawan yang sendirian, lawan yang kesepian

Monday, 19 June 2017

Berdagang, berusaha, dan bekerja tentu saja adalah hal baik, bahkan dalam islam bekerja termasuk ibadah. Namun, di jaman sekarang yang sawah dan kebun-kebun lebih banyak ditanam beton-beton bangunan. Lalu bangunan apartemen dan hotel dianggap kemajuan. Orang-orang berangkat kerja pagi buta, pulang petang hari. Istirahat di kotak-kotak apartemen lalu disebut inilah peradaban tinggi manusia.  

Saat ini berdagang dengan jujur jadi barang langka, bisnis yang fair sulit ditemukan, bekerja dengan amanah dan ikhlas sulit dijumpai. Tapi, jika ada yang berkuasa atas sesamanya dianggap normal. 
Orang-orang juga tidak ada yang mengeluh, semua berjalan  seperti semua baik-baik saja.

Orang yang baru merintis usaha akan dianggap aneh jika tidak memulai dan menjalankan bisnisnya dengan cara orang kebanyakan. Jika mau cepat sukses berbisnis, tidak cepat gulung tikar, dan dianggap normal, bisa ikuti arus jaman ini.   

Jaman dimana memberi gaji karyawan sesuai aturan upah minimum yang diterapkan pemerintah adalah keniscayaan, diolok, disalah-salahkan. Sedangkan mereka dengan dalih ikut berperan serta mengentaskan pengangguran dengan membuka lowongan kerja justru membayar pekerja dengan upah minim. Karyawannya bekerja hari demi hari, tidak lagi menganggur namun sekarang hutang bukannya berkurang tapi malah menumpuk.

Jaman dimana memberi aturan jam kerja sesuai dengan aturan pemerintah adalah kegoblokan, ketololan, dan kemunduran. Sedangkan mereka dengan dalih meningkatkan produktifitas dan kesejahteraan karyawan justru memperkerjakan karyawan sampai overtime. Kerja terus sampai mati!

Jaman dimana memberi ruang kepada karyawan, tidak ada rahasia, dan justru berusaha menggali ide dan inovasi dari karyawan adalah sebuah jalan bunuh diri, bodoh, dan salah. Sedangkan mereka dengan dalih menjaga rahasia resep perusahaan, selalu bersikap waspada, penuh curiga, dan seolah jalan rizkinya sudah dia temukan dan dia kini kuasa atas jalan rizkinya tersebut.

Orang-orang berbondong bondong menjadi enterpreuner, anak-anak muda mulai dari yang dikota sampai yang didesa berlomba lomba berwirausaha. Mereka berjibaku, tak tau pasti apa juga yang sebenarnya sedang mereka kejar. Sederhananya, mereka juga ingin ikut merasakan menjadi orang kaya seperti para pebisnis yang selalu para motivator eluh eluhkan.

Guru ingin jadi pebisnis, PNS ingin jadi pebisnis, Petani ingin jadi pebisnis, Polisi ingin jadi pebisnis, semua orang bercita-cita ingin jadi pebisnis. Tak peduli apa latar belakang pendidikannya, toh banyak juga lulusan universitas bekerja tidak sesuai jurusannya. Pokoknya yang bisa kaya, di sanalah cita-cita digantungkan.

Cara apapun untuk mendapatkan uang lebih banyak adalah inovasi, cara apapun untuk mempertahankan kekayaan adalah ide. Lebih banyak orang yang memeras keringat untuk pebisnis adalah kecerdasan. Uang bekerja untuk uang adalah kegeniusan.

Orang yang bercukupan adalah kemalasan, orang yang terlalu dermawan adalah kebodohan. Lebih memeras keringat sendiri demi hasil yang tidak seberapa adalah kesia-siaan. Menabung dan terus bekerja adalah ketololan.

***

Saat ini pedagang tidak pernah menggunakan atau memakan dagangannya sudah biasa. Petani makan dari membeli hasil panen negara lain sudah lumrah. Para pebisnis begitu ketat perhitungannya sampai lupa pada diri sendiri, saudara, dan tetangganya.
  
Mereka selalu merasa kekurangan, padahal mereka lebih berkecukupan daripada yang lain. Mereka selalu merasa target kurang tinggi, omzet masih kecil, pasar masih kecil, dan lain sebagainya. Tapi, menebus hasil pertanian dengan harga yang sangat-sangat murah, membayar karyawan dengan upah minim malah bangga, bisa memperkaya diri malah dipamer-pamerkan,  punya kawan motivator bisnis (padahal tak punya bisnis sendiri) di omong-omongkan.

Orang-orang seolah membangun padahal sebenarnya sedang melakukan penghancuran besar-besaran. Orang-orang seperti berlomba memperkaya diri, tapi sebenarnya mereka sedang memupuk kemiskinan. Buat apa uang milyaran, berlebih-lebihan makanan tapi masih banyak saudara yang kelaparan. Buat apa bangunan-bangunan besar dibangun kalau masih banyak tukang-tukang becak dan gelandangan yang masih tidur di pinggir-pinggir jalan.

****

Usaha, bisnis atau pekerjaan macam itukah yang menjadi amalan ibadah?

Orang-orang bekerja dalam niat ibadah sekarang tidak ada peminatnya. Bahkan, dilirik saja tidak. Sekalinya pun terlihat, orang-orang yang bekerja dengan niat ibadah malah dimanfaatkan, digaji rendah, dijadikan garda depan dalam pekerjaan yang berat dan penuh resiko, dll.

Karena mereka bekerja sepenuh hati, ikhlas, dan tidak menuntut macam-macam. Tapi, bukan berarti mereka bisa diperlakukan semena-mena. Bukankah, harusnya orang-orang macam ini sebaiknya diberikan penghargaan yang tinggi, jabatan yang pantas, dan tentu saja gaji yang layak.

Mereka yang berbisnis dengan niatan ibadah juga biasanya melihat rizki bukanlah sesuatu yang perlu dirisaukan. Mereka memulai dari melakukan usaha yang banyak manfaatnya, minim mudorotnya. Mereka tidak terlampau memaksa diri dengan target hari ini harus laku berapa atau berapa tahun wajib sudah kaya, dll. Mereka cukup melakukan perhitungan-perhitungan disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Ketika sudah cukup ya mereka simpan sisa penghasilannya, jika ada lebih mereka akan berikan ke orang yang membutuhkan.

Namun, orang-orang dengan proses yang lebih panjang. Istiqomah dalam kebaikan-kebaikan yang lebih terjal jalannya. Selalu tidak banyak yang mau melaluinya. Kebanyakan orang mencari jalan yang paling cepat untuk mencapai hasil paling kaya. Dalihnya, nanti juga kalau sudah kaya bisa bantu orang yang lebih banyak; bikin panti asuhan, yayasan, dll.

Bagaimana bisa membantu orang lain, sedangkan menjalankan hidup dengan melakukan kerusakan-kerusakan yang dibungkus dengan kemajuan dan pembangunan. Baru niat membantu sedikit sudah ngomong-ngomong tapi sudah merusak banyak hal disembunyikan dan ditutupi rapat-rapat.

Di jaman seperti ini, jaman dimana ikut mencari rizki yang haram, riba, dan tidak berkah saja susah. Apalagi rizki yang halalan toyiban. Tidak ikut dalam arus aja sudah sangat baik. Setidaknya bisa meletakan niat dan dasar tujuan sebaik-baiknya dalam setiap perilaku kehidupan, termasuk juga dalam hal pekerjaan, sudah merupakan kontribusi untuk tidak ikut-ikutan merusak dan melakukan kemunduran di dunia ini. Minimal mencari berkah untuk diri sendiri.

Meskipun susah, pastilah masih dan akan terus bertambah banyak orang-orang yang dengan sabar dan ikhlas dalam menjalankan setiap usahanya atas niatan ibadah dan dasar mencari keberkahan. Semoga kita bisa menjadi salah satu diantaranya. Amin ya rabbal alamin.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Powered by Blogger.