kawan yang sendirian, lawan yang kesepian

Membingkai memori masa SMA

VIDEO CLIP PERTAMA SAYA

TVC ULIN-ULIN (IKLAN)

Showing posts with label Cerbung. Show all posts
Showing posts with label Cerbung. Show all posts

Sunday, 19 May 2019

Mate, Mengapa pria selalu merasa superior atas perempuan? Hampir semua laki-laki merasa lebih berhak memimpin perempuan, dan jika perempuan ada yang lebih baik dan mampu, kemudian muncul pertanyaan ‘Apakah tidak ada laki-laki yang lebih baik?’

Sek, sek.. Coba ceritakan apa yang terjadi.

Haha. Sak sek, sak sek. Udah lama aku gak dengar logat jawamu. Begini Mate, aku sumpek dengan pola-pola lama birokrasi pemerintahan. Kau tahu kan, hari ini banyak perempuan jadi menteri. Secara angka memang lebih banyak dari kabinet sebelumnya. Tapi, itu belum cukup. Peranan perempuan dalam kinerja masih sering dibenturkan dengan norma di kehidupan pribadi. Ya, aku tahu aku gagal dalam rumah tangga. Yang aku pikir, aku berusaha profesional dalam kerja. Eh.. kok ada saja yang tak bisa membedakan kerja dengan kehidupan pribadi. Awalnya ku anggap angin lalu, tapi lama kelamaan gerah juga. Aku hampir saja bertengkar dengan salah satu atasanku, setelah perdebatan panjang, dia menyerangku. Bilang tukang mabok lah, punya tato lah, merokok lah, puncaknya dia bilang mana mungkin bisa kerja di masyarakat.

Hmm.. Ya gimana ta. Orang memang lebih mudah menilai dari materi. Barangkali, atasanmu itu hanya berusaha bertahan karena tak ingin kalah argumen darimu.

Ya, itukan berarti merasa superior.

Iya, tapi enggak serta merta semua laki-laki merasa superior ta. Ada sebabnya yang mendorong atasanmu bicara seperti itu. Eh, tapi bagaimana dia bisa tahu tatomu?

Lewat story ku mungkin, waktu aku bikin. Dan, mungkin kalau bukan karena Ibu Susi jadi menteri, aku tak akan pernah mewujudkan tato di tubuhku. Meskipun, aku merasa lebih merdeka atas pribadi dan tubuhku sejak pemerintahan ini. Tapi, masih saja ada orang-orang birokrasi yang masih berpikir atasan adalah pemilik kuasa.

Ta. Kau ini cobalah sedikit tenang. Aku percaya kamu bisa bisa membawa dirimu, dan bertanggung jawab atas apa pilihanmu. Tapi, kau juga perlu tenang dalam berhubungan dengan orang lain.

Baiklah, kau sepertinya benar Mate. Aku harus tenang dan tidak ikut dalam gaduh yang mereka buat.

Ta, memangnya bagaimana sebenarnya kau memandang perempuan? Maksudku, tentang kemerdekaan yang kamu maksud. Apa kau tak ingin membangun kembali hubungan dengan laki-laki?

Hahaha.. Kau pikir aku merasa nggak merdeka kalau aku punya pacar atau suami, begitu? Enggak Lah Mate. Aku lebih menempatkan diri sebagai perempuan yang biasa saja. Sama seperti laki-laki. Sama sama manusianya. Yang berbeda hanya kodratinya kan? Perempuan yang melahirkan, perempuan yang menyusui, dan kodrat perempuan lainnya itu. Selain itu, ku pikir sama saja.

Bukankah, jika seperti itu berarti perempuan lebih punya banyak peranan ketimbang laki-laki. Aku tidak membayangkan jika laki-laki tidak diberi peran sebagai pemimpin, menafkahi, dan lain-lain. Jika semua peran perempuan, lantas laki-laki ngapain?

Emm. Untuk itulah Mate, laki-laki mestinya tidak merasa superior atas perempuan. Perempuan dan laki-laki mestinya mampu berbagi peran. Meskipun aku mampu menafkahi diriku, meskipun aku mampu memimpin misalnya. Aku akan tetap menghormati peran laki-laki, tentu saja laki-laki yang juga bisa menghargai peran perempuan.

Ta, aku jadi berpikir ulang. Sesungguhnya yang tangguh adalah perempuan. Barangkali karena itu, laki-laki perlu superioritasnya. Tapi, justru laki-laki yang tangguh adalah laki-laki yang menyadari peran perempuan. Bukan yang menganggap perempuan lebih lemah, dan lain-lain.

Ya Mate, bisa saja begitu. Laki-laki butuh superioritasnya. Tapi, tidak hanya laki-laki yang perlu menyadari peranannya dan peran perempuan. Perempuan juga perlu menyadari bahwa mereka tidak lemah. Dan, tentu saja kesadaran berbagi peran dengan laki-laki, tidak hanya sekedar untuk menyandarkan diri.

Ah, kau ini memang perempuan tangguh. Semoga tuhan menyisakan satu saja untukku seorang perempuan tangguh.

Yakin Mate? Ntar kau ndak berani deketin lagi? Hahaha

Apalah aku ini, Cinta. Hanya lelaki lemah ~

Cinta, apa makna namamu sesungguhnya? Tak usah kau jawab dengan normatif, jawab menurutmu saja. Kau sudah dewasa, sekolah dan universitas pun tamat. Sekarang kau bekerja pada negara, kau bahkan punya suara di kementerian dalam usiamu yang terbilang cukup muda. Apa? Apa Cinta bagimu?

Sudah? Apa penting semua tentangku itu pada jawabanku? Mate, kau bertanya tentang makna namaku? Atau tentang cinta?

Kalau kau tanya makna namaku, aku ragu mampu menjawabnya. Kau mestinya bertanya pada ayahku. Orang tua yang memberi namaku. Seperti namamu juga kan? Mate, nama pemberian. Atau, kau sudah ubah namamu itu barangkali dari Mamat jadi Mate? Agar kau bisa berbaur dengan orang-orang barat, dimana kau habiskan kuliahmu di sana.

Hahaha.. Sial kau ta.. Aku bertanya tentang Cinta yang kebetulan juga namamu. Dan, kau kan tahu namaku Mate Sebastian.

Haha, cinta bagiku berbeda dengan namaku. Jujur saja, jika boleh memilih, aku ingin dinamai nama yang selain cinta, apapun yang penting bukan cinta. Tapi, cukuplah berbicara nama. Apalah arti nama, selain doa dan harapan si pemberi nama. Tetap saja, identitas dirimu yang utama adalah bagaimana perilakumu.

Lalu, menurutmu cinta itu?

Bagiku mate, Cinta itu seperti oksigen. Dia barangkali punya nama untuk disebut, dia barangkali punya deskripsi. Tapi, yang utama bukan nama atau sebutan itu. Tapi, bagaimana dia bekerja dalam arus utama kehidupanmu. Kita tahu kan, tanpa oksigen kita tak bisa bernafas. Tapi, berapa kali kau menyebutnya? Seperti kau umbar kata cintamu? Dan, dengan gampangnya kau hari ini cinta, besok tidak. Kau pikir cinta itu seperti shift kerja?

Tak salah aku bertanya padamu Cinta. Aku juga merasa cinta sekarang dianggap dagangan. Jika meminjam analogi-mu. Barangkali, udara kita memang sudah sangat tercemar, hingga hidung kita sudah terbiasa menghirup racun dan tanpa disadari lambat laun mencekik leher. Karena itu, oksigen diperdagangkan pun tak laku. Atau orang sudah tak mengenali lagi oksigen.

Ya, itulah kenapa kau bertanya apa itu cinta. Kau sudah tak mengenalnya?

Haha. Aduh Cinta, kau ini sudah cantik, baik, juga selalu punya jawaban yang melegakan. Seandainya kau perempuan sederhana, tentu sudah dari dulu aku berani mendekatimu.

Eits, memang aku gak sederhana? Cukuplah kau menilaiku dari penampilan. Atau dari apa kata orang-orang yang tak mengenalku. Kau ini kupikir sudah mengenalku.

Eh, sebentar.. Aku hanya bergurau saja, atau barangkali aku terlambat untuk berani. Tak mendekatimu sejak dulu.

Hahaha.. Kesempatan yang sama tidak datang terus menerus, tapi mungkin bisa kau menjumpai kesempatan yang lebih baik nanti. Yang artinya tidak ada yang terlambat. Tak ada kata terlambat bagi orang-orang yang senang belajar, barangkali termasuk orang sepertimu.

Terima kasih Cinta.

Hah, traktirlah aku untuk terima kasihmu.

Ah, siaplah itu. Apa yang tidak untuk teman diskusi dan sahabat sepertimu Cinta.

Popular Posts

Powered by Blogger.