kawan yang sendirian, lawan yang kesepian

Membingkai memori masa SMA

VIDEO CLIP PERTAMA SAYA

TVC ULIN-ULIN (IKLAN)

Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Monday, 5 October 2020

Untuk mengendarai hidup, kita mesti mengerti kapan harus ngerem kapan harus tancap gas. Untuk melakukan perjalanan hidup, kita mesti mengerti kapan harus berhenti, kapan harus mulai lagi. 

Terdengar sepele, namun untuk mampu mengerti road map hidup kita sendiri perlu waktu yang tak sebentar. Road map ibarat takdir peran kita di dunia ini. Dan tujuannya, tentu masing-masing dari kita punya tujuan sendiri-sendiri. Ada yang sebentar atau jangka pendek, ada yang lama atau jangka panjang. Begitulah beraneka ragam kehidupan.

Namun, seringkali kita ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk melakukan banyak hal. Untuk mendorong terus produktifitas. Mengumpulkan pencapaian-pencapaian. Hingga lupa untuk sekedar mengambil jeda, diam, merenung, bahkan lupa mengapresiasi kesunyian diri. Karena kenyataannya memang banyak dari kita mengukur seseorang dari apa yang dikerjakannya, hampir tidak ada orang mengapresiasi jeda, atau diamnya seseorang. Bahkan saat-saat kondisi berada dalam ketidakpastian. Akan aneh jika orang mengambil jeda, atau berhenti sejenak. Meskipun sekarang banyak orang mulai banyak yang melakukan kontemplasi, meditasi, atau kegiatan semacamnya. Tapi, prestasi adalah tentang pekerjaan.

Padahal kita akan selalu butuh rem, butuh jeda, butuh diam dalam hidup. Yang membedakan hanyalah kapan kita mesti ngerem, hingga diam. Setiap orang memiliki tikungannya sendiri, memiliki turunannya sendiri, memiliki kemampuan jarak tempuh yang berbeda-beda. Jika kita tak mampu memahaminya, coba kita cari dulu road mapnya, kita lihat dulu medannya, sampai bagaimana bisa selamat sampai tujuan. 

Tujuan tentu saja harus diketahui atau ditentukan. Tujuan tentu tidak sama dengan pekerjaan, perjalanan bukan tujuan. Perjalanan adalah proses, gas dan rem adalah ritme. Tidak tahu tujuan, tak akan pernah menemukan arah perjalanan. Hidup mestinya mantab, jika masih gamang, cobalah untuk mengambil jeda, diam sejenak. 

Kita semua pasti mengalami fase hidup dalam ketidak pastian, ada banyak orang yang tetap melangkah, ada yang berhenti. Kedua-duanya boleh jadi baik, dan perlu diapresiasi. Seperti halnya mengambil keputusan untuk menerabas belantara, memilih diam dalam kehidupan juga butuh keberanian. 

Persoalan hasilnya bagaimana, tentu semoga sesuai dengan harapan dan tujuan. Yang paling penting adalah kita menyadari bahwa hidup ini tak hanya persoalan ngegas, atau terus berlari. Jadi, jangan lupa mengapresiasi jeda. Semoga kita semua selamat dalam perjalanan kehidupan kita masing-masing. Bahagialah! 


Thursday, 1 October 2020


Jalan Belokan Kiri Wonosalam-Jombang / Foto : Rusdiyan Yazid



Perhatikan pikiranmu, karena berdampak pada tindakanmu. Perhatikan tindakanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu. Perhatikan kebiasaanmu, karena akan membentuk karaktermu. Perhatikan karaktermu, karena akan menjadi takdirmu.

Kutipan diatas adalah hasil buah pikir dari Lao Tzu. 


Saat membaca kutipan diatas, rasanya sebuah pertanyaan terjawab. Bagaimana takdir menghampiri saya? Atau apa takdir saya sesungguhnya? Pertanyaan ini yang membawa saya pada ingatan apa-apa saja yang sudah saya putuskan, sudah saya lakukan, sudah terjadi dan sudah saya hadapi. Rasa-rasanya apa yang melekat pada saya hari ini adalah benar akumulasi seperti dari perkataan Lao Tzu tersebut. Takdir ku adalah bagamana diriku berpikir, bertindak, dan baru ku sadari menjadi kebiasaan hingga karakter.


Tentu saja takdir juga lengkap dengan konsekuensi-konsekuensinya karena takdir berasal dari pilihan-pilihan hidup. Dan, konsekuensi inilah yang seringkali luput dari pemahaman sebab-akibat, akhirnya yang terjadi adalah penolakan, setres, depresi dan rasa gamang pada hidup ku sendiri. Karena semula takdir seperti sesuatu yang berasal dari luar diri, bersifat rahasia, dan bukan kuasa diri. Pikiran seperti ini yang membuat diri rasanya mudah menyalahkan keadaan, menyalahkan takdir, saat segala sesuatunya tak seperti harapan, bahkan terasa sekali hidup tak pernah adil.


Padahal hidup memang tak pernah adil jika kita semakin mencari keadilan hidup. Hidup bukan untuk mencari keadilan, tapi hidup untuk memberikan rasa adil. Seperti burung yang tak menuntut keadilan pada ikan yang hidup di air, atau sebaliknya. 


Tapi bagaimana jika apa yang saya lakukan tak seperti apa yang aku katakan, apa yang ku katakan tak seperti apa yang ku pikirkan? Ya mungkin takdir akan lebih lunak, hidup lebih enak. Kamu bisa membohongi diri sendiri, kamu bisa membuat orang tertarik dengan kemasan atau tampilanmu. Tapi dengan begitu, itu adalah dirimu, itu adalah karaktermu. Kamu akan sibuk melakukan manipulasi-manipulasi timbang memperbaiki diri; melaraskan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Agar apa? Agar terlihat memiliki takdir yang baik. Tapi sesungguhnya bagaimana? Ada yang menderita, tapi banyak yang terlena.


Yang bisa saya lakukan tentulah hanya berusaha menyelaraskan isi kepala, mulut, dan kata hati. Persoalan takdir, saya hanya bisa bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Sambil terus belajar tentang kehidupan, tentang bagaimana menjadi diri sendiri tentu dengan segala keterbatasan dan kekurangan saya. Karena barangkali lebih bijak jika saya memacu dan menuntut keselarasan diri daripada menuntut takdir saya sendiri. 

Thursday, 25 April 2019

Sudah pasti aku keliru, karena kebenaran yang ku temukan tak mungkin kekal. Karena kebenaran ku temukan dari fakta-fakta. Sedangkan fakta sendiri menempati ruang dan waktu yang dinamis.

Sudah pasti juga aku tidak akan baik, karena kebaikanku berasal dari hasil buah pikir. Sedangkan buah pikiranku berasal dari mengolah pengalaman, ide, dan hasratku sendiri. Kemudian, dari sanalah aku bertindak. Padahal buah pikiranku selalu berubah. Bahkan ketika aku tak ingin mengubahnya.

Dari pikiran tersebut maka sudah pasti aku plin plan, karena aku tak punya kuasa penuh atas pertemuan, atas piranti otak dan sistem semesta. Aku hanya bisa mengelola, mengolah, dan memahaminya.

Sudah pasti aku tak punya pegangan dunia, karena dunia ini dinamis. Mengendalikan diri sendiri saja prosesnya hingga akhir hayat. Dimana raga dan jiwaku bisa mendulang kebutuhannya, disanalah duniaku berada. Untuk itu ku biarkan dunia bebas, tanpa perlu ku jadikan pegangan.

Kebutuhanku juga pasti tak statis. Hasrat ku naik dan turun, semangat juga demikian, apalagi kesempatan kadang datang terlalu cepat, kadang dinanti tak kunjung datang. Bahkan tak bisa ku bayangkan jika aku mesti hidup dengan kebutuhan yang ajeg.

Karena itu semua, sudah pasti aku tak mampu menyampaikan semua hal, ini dan itu. Sudah pasti aku hanya mengatakan alasan-alasan yang aku sendiri tak mantap. Sudah pasti aku ragu, karena tak ada sedikitpun yang kuucapkan kuyakini bisa kupegang sepanjang waktu.

Sudah pasti aku hanya omong kosong.

Friday, 22 March 2019

Tuhan,

Aku ingin selesai saja, boleh?

Aku rasa aku tak sanggup kau uji dalam dunia yang serba membingungkan ini. Karena kehidupan setelah mati; orang baik ke syurga, orang jahat di neraka, yang sudah pasti begitu saja, aku tak sanggup membayangkan. Tuhan, untuk apa aku kau sesatkan, jika aku pada akhirnya kau hukum karena ketersesatanku, bukankah aku sesat sudah bentuk hukuman sebagai manusia. Di dunia ini, mana yang baik, mana yang buruk saja tak ada yang absolut. Kau ciptakan begitu banyak kebaikan2, dan keburukan2 melalui pikiran2 dan hati manusia-makhlukMu.

Dunia sudah tidak menarik lagi, Tuhan. Baik buruk, pahala dan dosa, benar dan salah, sudah terlalu sering ditelanjangi, tidak hanya oleh orang lain, tapi juga mereka menelanjangi diri mereka sendiri. Semua orang juga mudah saja, menjadi hakim mana yang sah, mana yang batal. Menakar nilai orang lain, dan mempublikasikannya. Sungguh, tak ada lagi yang menarik di dunia ini tuhan.

Bolehkan aku usai saja?

Entah bagaimana, justru aku yang aneh dan dianggap salah, karena aku tak bisa mengikuti dunia ini. Bahkan, dianggapnya aku ramai seperti yg dilakukan dunia ini. Justru karena aku mencintainya, aku peduli. Namun, justru aku tersesat dalam cintaku pada dunia yg aku sayangkan. Tuhan, aku berserah padaMu. Aku benar2 sudah merasa mati dikeramaian. Bolehkan aku usai saja?

Tuhan, perlahan aku sekarang merasa benar-benar hanyut dalam dunia ini, segalanya terombang-ambing, terbolak-balik. Aku tak tahu lagi siapa diriku yg sejati, siapa yang jadi teman, siapa yang mesti dilawan. Nafsukah? Akalkah? Perasaankah? Entahlah, dunia ini menggerus segalanya, menegaskan tapi mengaburkan, semua benar tapi kemudian yg salah jadi samar, semua membangun kepentinganya hingga tidak jelas identitasnya, semua berlomba menonjol sampai dari luar hanya tampak abu-abu. Aku kelelahan mengikuti hidup bersosial di dunia ini, barangkali akan lebih nyaman dunia yg cukup untuk diriku saja.

Dunia yang cukup dengan cinta, yang tak kujumpai pada manusia2 dunia ini. Justru mereka mempertanyakan, Mau makan cinta? Padahal, mereka sadar atau tidak, bisa hidup, bernafas, makan, dll adalah karunia dari cintaMu. Aku cukup dengan cinta saja, gak apa-apa. Mereka lupa dan merasa kurang hanya dari cinta juga gak apa-apa. Yang penting jangan kau lenakan aku, dan membuatku larut dalam dunia ini tuhan. Atau bolehkah aku sudahi saja tuhan?

Atau jika belum bisa selesai sekarang, sisakanlah dunia yg cukup untuk ku dan cintaku. Aku berdoa padamu Tuhan Semesta Alam.

Sunday, 24 February 2019

Berhentilah berfikir bahwa orang lain yang kaya maka bisa kita pinjam uangnya, orang lain baik, maka kita bisa seenaknya minta bantuan kepadanya. Orang lain tersebut juga punya urusan, punya kebutuhan, punya tanggung jawab.

Jika mereka hari ini lebih mudah rizkinya dari kamu, berarti mereka juga lebih sabarnya, lebih usahanya. Bukan berarti mereka tak punya keinginan senang-senang, liburan, dll tapi mereka merasa masih banyak hal yang mesti diprioritaskan. Bukan berarti mereka tak bisa hidup mewah, tapi mereka berusaha lebih berhemat, bagaimana urusan dengan orang lain atau tanggungjawab lebih diutamakan.

Sudah terlalu banyak pertemanan, persaudaraan rusak karena hutang, yang biasanya bukan karena nominalnya. Tapi karena sikap kita yang menyepelekan hutang, yang berhutang / dibantu lebih galak atau lebih cuek daripada yang memberi hutang. Bukan menyindir, tapi seringkali dari sini lah, sebab hubungan jadi tidak baik.

Bahkan ada istilah, jika kamu ingin tahu karakter seseorang yang sesungguhnya, cobalah berurusan uang dengannya. Karena memang, uang bisa membuat orang lupa diri. Sehingga muncul karakter aslinya. Yang baik, akan berusaha membalas kebaikan orang lain. Yang tidak baik, malah bertindak arogan, dan menganggap dirinya benar. Hingga yang pernah membantunya pun malas berurusan lagi. Akhirnya, rusaklah hubungan persaudaraan dan pertemanan.

Jika kita masih dalam kondisi yang kekurangan, sulit, dan lemah. Mestinya kita belajar pada mereka yang lebih. Belajar bagaimana lebih keras berusaha, lebih bersabar, lebih kuat menghadapi segala sesuatu, berusaha lebih bertanggung jawab, dan utamakan kebutuhan daripada keinginan.

Belajarlah dari orang lain, bukan malah mencederai kebaikan orang lain. Mungkin kamu, bisa bertemu seribu orang baik baru dan berganti-ganti yang bisa kamu manfaatkan. Tapi kamu tidak akan pernah pernah mendapatkan satu pun manfaat yang sejati dari siapapun.

Orang baik kepadamu itu karena mereka baik, bukan bodoh.

Wednesday, 20 February 2019

Tdk semestinya aku marah pada siapapun, bahkan kepada dia yang aku berhak marah. Tak semestinya aku membalas seseorang yang membuatku sakit hati. Meskipun sungguh berat, untuk tidak marah, untuk tidak kecewa, untuk tidak bersedih atas kepedihan yang diberikan.

Apa yang sudah ku beri, mestinya tak pantas ku ambil lagi. Bagaimanapun, entah bermanfaat atau tidak. Entah digunakan untuk hal-hal yang tak semestinya dilakukan. Bahkan digunakan untuk mengecewakan orang lain. Pun aku tak semestinya memintanya kembali.

Seberat apapun, sesakit apapun, bahkan seburuk apapun. Mestinya cukup di aku saja.

Lebih baik ikhlas, daripada berpikir tentang perilaku buruk orang lain, meskipun aku berhak, meskipun aku peduli. Tapi, lebih baik ikhlaskan dan segera sudahi kesedihan, ubah menjadi kebahagiaan.

Seberat apapun, sesedih apapun. Luapkan kemudian ikhlaskan. Tak perlu ku pinta orang lain memahamiku. Dan berhenti memikirkan orang yang tak pernah benar2 ingin denganku, dan menghargaiku.

Bukan hal yang mudah bagiku. Setegar apapun, nyatanya kesedihan menyulitkan diri ini untuk bangkit kembali.

Aku yang gagal dan kalah lagi. Yang terlalu bodoh dalam menaruh hati. Aku yang tolol.

Tuesday, 19 February 2019

Kepedulian telah mati.

Baru ku rasakan bagaimana orang yang peduli justru salah, keliru, dan tak pantas. Menyedihkan. Justru yang baik adalah masa bodoh dan cuek, walaupun di hadapannya adalah masalah yang nyata. Meskipun persoalanya tentang moril ataupun perkara hati. Namun, begitu mengganjal. Mempengaruhi kehidupan, terutama psikis.

Melihat kesalahan pun tak bisa melakukan apa-apa. Masuk dalam kesalahan pun sudah tak sanggup. Tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya mendoakan agar minimal tak terpengaruh. Kepedulian pun tak lagi menemukan peraduannya. Mereka banyak tersimpan dalam batin orang-orang baik yang memilih menyingkir dan pergi. Berhenti peduli.

Orang-orang yang peduli, kemudian berhenti. Bukanlah suatu perkara yang mudah. Ada banyak hal yang diolah dan dibenturkan dalam pikiran. Pikiran dan hati saling berjibaku, mengolah banyak hal yang betul2 menguras energi. Terus hingga mentok pada ujung; berhenti peduli.

Kepedulian bagi sebagian orang adalah bentuk penghargaan yg tertinggi. Bentuk cinta dari kasih sayang yang tulus. Kepedulian adalah kemesraan. Tak bisa dibandingkan dengan apapun.

Namun, kepedulian hari ini menjadi hal yang justru rumit. Orang-orang merasa baik, peduli, tanpa kepentingan, ternyata peduli hanya saat-saat tertentu. Saat dibutuhkan justru tak peduli.

Orang-orang yang hanya peduli ketika ada kepentingan, justru dipopulerkan, mewajarkannya, bahkan semakin hari semakin banyak orang yang seperti ini.

Orang yang betul2 peduli, justru seringkali terasingkan. Karena kepeduliannya hadir setiap saat, kapanpun. Hingga  tak dirasakan orang lain kepedulian itu. Seperti bernafas, kita tak merasakan udara yang kita hirup. Baik dibutuhkan atau tidak. Kepedulian senantiasa mengalir.

Orang yang benar2 peduli seringkali terlempar. Karena kepeduliannya tidak terbatas kepentingan. Sehingga terlihat pun tidak. Tak dikenal, tak penting. Ketulusannya membuatnya lebih peka pada kondisi dan keadaan. Seringkali malah dianggap masalah karena kepekaan dan ketulusan tersebut. Yang mau tidak mau mesti pergi dan membawa kepeduliannya.

Orang seringkali lupa menghargai udara yang setiap detik kita hirup, begitu juga kepedulian orang lain yang tulus. Seringkali kita tidak bersyukur, dengan menjaga dan juga memberikan timbal balik yang minimal sepadan.

Semakin hari kepedulian semakin tak dipedulikan.

Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap bisa dihilangkan dengan pengalaman. Namun, tidak jujur itu sulit diperbaiki. ~ Moh. Hatta

Sepakat dengan pernyataan dari Bpk Moh. Hatta. Terlebih hari ini banyak orang justru maklum, bahkan merasa benar berperilaku / bersikap tidak jujur. Orang yang jujur, biasanya cenderung lebih sering tertipu, karena orang jujur biasanya juga berpikir orang lain juga jujur.

Orang-orang yang terjebak dalam pola pikir tidak jujur biasanya sulit sekali berubah karena mengaku salah saja sulit, apalagi untuk mau belajar, hingga berusaha mengubah prilaku, atau keluar dari lingkungannya yang juga terbiasa curang dan tidak jujur.

Akan sangat disayangkan seseorang yang mulanya baik, tapi karena kebaikannya justru terjebak dalam lingkungan setan, yang penuh kepura-puraan. Seperti halnya orang-orang bersih yang terseret pada politik kotor. Sekali terjebak, akan sulit untuk keluar, atau bahkan lambat laun malah menikmati ketidakjujurannya.

Pada akhirnya kuasa jadi membutakan hati, tidak bertanggung jawab, dan arogan.

Prilaku curang dan ketidakjujuran yang terus diulang-ulang akan diyakini benar. Semoga kita bisa senantiasa jujur pada diri dan orang lain. Sehingga tidak akan merugikan orang lain.

Meskipun jujur bisa sangat menyakitkan dan dikucilkan.

Tuesday, 12 February 2019

Entah mesti bagaimana, dan kemana lagi aku ini. Seperti sudah tak punya daya untuk berjuang dalam belantara rimba kehidupan manusia yang kebanyakan mencari harta, kekayaan, kekuasaan, kekuatan, atau kepintaran. Tapi nir kebaikan, surplus kepentingan dan arogansi.

Hanya mampu hidup seadanya, bertahan semampunya. Di jaman kebaikan dan perjuangan tak dihargai. Cinta dan kasih dianggap usang. Ketulusan tak laku, dan perhatiaan juga kepedulian dianggap kerugian.

Buah kehidupan adalah harta, harta, dan harta. Usia menjadi jaminannya. Seolah kebahagiaan harus hari ini, seketika, sekarang juga. Bagaimana pun caranya. Tak peduli esok mati meninggalkan beban bagi orang lain. Kok esok, sekarang pun tidak berfikir tentang orang lain. Rasa tali kasih tlah mati, habis terlalap api keegoisan diri sendiri.

Semakin ditinggalkan orang, semakin besar kepalanya. Semua dianggapnya tak berguna, dianggapnya iri, dianggapnya tak memiliki semangat realistis seperti dirinya dan orang kebanyakan. Entah bagaimana orang-orang berlomba membutakan hatinya. Yang tersingkir, semakin tersingkir. Yang terkalahkan, semakin kalah.

Punya mata, tapi buta. Punya telinga, tapi tuli. Punya mulut, tapi bungkam. Orang-orang yg melihat, yg mendengar, yg bicara tak ubahnya sampah yg tak perlu dihiraukan. Hati nurani pun mati. Justru yang dianggap sampah, adalah yang selama ini memberikan hidupnya, keberkahannya, kasihnya pada semesta, melalui tindakannya, budinya, dan hatinya.

Entah, mesti bagaimana lagi. Baru mencoba jadi orang baik pun sulitnya bukan main. Entah mesti kemana lagi. Menyalakan suluh pun tak mampu. Kemarin, ada satu harapan. Tentang tujuan, tentang peraduan, tentang penerimaan. Tapi nyatanya, semuanya pun kandas.

Entah mesti bagaimana, dan kemana aku ini.

Sunday, 30 December 2018

Dear, orang-orang terkasih yang menghawatirkan pekerjaanku.

Aku bekerja selayaknya bernafas. Jika dalam bernafas ada menarik dan mengeluarkan. Seyogyanya bekerja adalah sama seperti mengeluarkan nafas. Dan bagiku menarik nafas adalah bagian pembelajaranku. Belajar dan bekerja adalah proses bernafas.

Jika sekarang yang kau permasalahkan adalah penghasilanku berupa uang. Bagiku uang adalah alat, penghasilan adalah konsekuensi. Untuk mendapatkan alat berupa uang diperlukan bekerja, saya sepakat. Tapi jika yang kau permasalahkan uang tersebut kenapa tidak ku gunakan untuk beli motor, dll yg menurutmu bisa melegakan hatimu. Saya memilih menggunakan alat untuk membantuku melegakan hatiku, bukan hatimu. Pun jika uangmu kau gunakan untuk melegakan hatimu, aku tak akan mengganggu.

Karena bekerja adalah nafas bagiku, maka setidaknya nafas ini tak pernah mampet. Jika aku menghirup oksigen, aku mengeluarkan karbondioksida. Jika aku belajar, maka aku bekerja. Jadi uang bukan alasan untuk bekerja. Tapi, jika dalam aku belajar dan bekerja, ada hasil berupa uang, artinya aku mendapatkan alat. Alat untuk apa? Untuk berbagi kebahagiaan.

Dari belajar dan bekerja, aku bisa mendapat pengalaman, kenyamanan, kebahagiaan, ruang tumbuh, teman, hasil karya dan hal-hal baik lainnya. Jadi selain uang, masih banyak hal yang akhirnya memperlancar tubuh untuk hidup dan berkembang lebih baik selayaknya jika udara yang kita hirup belum terkontaminasi polusi, segar menyegarkan.

Jadi, terima kasih telah menghawatirkanku. Dan ku pikir, aku belum menemukan konsep bekerja senyaman ini sejauh ini. Mungkin kita hanya berbeda cara, tapi bukan berarti kekhawatiran berubah menjadi ketidakpedulian. Hiduplah dengan caramu, aku hidup dengan caraku. Dan kita masih bisa saling berbagi kebahagiaan dan keindaahan.

Sunday, 25 November 2018

Ketika akal pikiranmu tak lagi mampu memberikan jalan keluar, cobalah dengan rasa-kalbu. Karena tidak semua bisa diselesaikan dengan akal pikiran. Ada hal-hal yang sebelumnya tak kau jumpai pada pikiran, akan kau temui dalam rasa.

Olah pikir & olah rasa sebaiknya terus diasah. Karena dengan keduanya lah kita memahami semesta. Jika tidak begitu, rentan kita pada penyakit psikis. Baik hanya mengasah akal pikiran saja, atau hanya menggunakan perasaan saja, membuatmu tak mampu memahami semesta secara bijak.

Sumber kegilaan-setress seringkali karena tak seimbangnya pikir & rasa. Salah satu cenderung dominan, atau salah satu diabaikan. Berfikir terlalu keras tidak baik, mudah terbawa perasaan juga tidak baik. Jika terus berfikir, maka kepala mudah sakit. Jika terus terbawa perasaan maka akan mudah terjerembab pada keterpurukan. Adakalanya mengurangi pikiran berat, dengan merelaksasi diri; istirahat/tidur, rekreasi, nonton, belanja, mengunjungi teman/saudara, dll. Begitu jg adakalanya kita tdk hanya terbawa perasaan tapi juga menggunakan nalar dengan menimbang, membaca buku, curhat kepada orang lain, berbagi kepada yg membutuhkan, dll upaya untuk lebih kaya dalam melihat permasalahan/sudut pandang/perspektif.

Bukan hal yang mudah untuk mampu menyeimbangkan rasa & pikir. Untuk itu kita perlu terus melakukan olah rasa & olah pikir sebagai latihan. Pelan-pelan, sedikit demi sedikit. Seringkali kita perlu untuk sedikit berubah. Yg tadinya senang menyendiri, perlu untuk mulai berbaur. Yg tadinya lebih banyak berbuat untuk orang lain, cobalah untuk berbuat sesuatu untuk diri sendiri, dan begitu jg sebaliknya. Tidak perlu takut dianggap arogan, egois, atau anggapan orang lain. Karena kau sendiri yg tahu dirimu, apa yang terjadi, apa yang kamu pikirkan, dan apa yang kamu rasakan. Orang lain hanya bisa menilaimu, itu saja. Maka, mereka tidak berhak membuatmu menjadi lebih terpuruk ketika kau berusaha untuk kembali berbahagia / bangkit. Terus saja lakukan apa saja yg mampu membuatmu kembali tersenyum.

I dont care what are you talking about, cause whos care about me?!

Make myself great again!

Monday, 12 November 2018

Omong kosong itu berbunyi citra.

Saya tak peduli seberapa populer seseorang, ketika memang karena karyanya sendiri. Bisa sungguh bertanggung jawab atas apa-apa yg dicitrakannya.  Bukan cuma seperti motivator yang terlalu banyak bicara tapi kosong dalam perbuatan. Atau seperti para teoritis yang tak mampu menyelesaikan masalahnya dalam kenyataan.

Bagaimana mungkin bisa bertanggung jawab pada orang lain, jika pada diri sendiri seenaknya saja. Bagaimana bisa mengapresiasi segala yang membantu dan membersamai, jika pikiran jujur saja tdk punya. Yg terjadi justru kebohongan, kepura-puraan, kekacauan dan palsu pencitraan.

Jauh cita-cita menginspirasi bisa terwujud. Karena inspirasi datang dari hati yg sejati. Yang hadir melalui wujud prilaku sehari-hari. Barangkali, hari ini citra omong kosong bisa membuat orang terpaku, terpana, kemudian orang tergerak untuk berbuat yang serupa. Tapi, semua itu tak akan sampai ke hati yg sejati. Kita bisa bicara, bergerak, dan menginspirasi orang lain. Tapi, tdk semua org menaruh hatinya disana, pada orang-orangnya, pada gerak dan sikapnya, dan pada hubungan-hubungan baik yg menyertainnya.

Yang paling menyedihkan adalah bagaimana hilangnya rasa malu, tak peduli, dan merasa semua seolah keadaan yg disalahkan. Bisanya mengabaikan tanggung jawab, tapi terus saja memupuk citra perjuangan. Sungguh penuh dengan kepalsuan. Sampai hilang kejujuran pada diri sendiri.

Citra adalah penilaian. Tak ada nilai baik, tanpa menyelesaikan persoalan dgn tuntas. Pencitraan adalah cara agar orang lain menilai sesuai bagaimana apa yg ingin dicitrakan. Pencitraan tak perlu menyelesaikan persoalan, berpura-pura dan seolah-olah saja sudah cukup. Tinggal brp banyak pengulangannya. Semakin sering berpura-pura, semakin besar peluang keberhasilannya.

Citra akan abadi & dikenang. Pencitraan hanya akan terus menambah pekerjaan rumah. Dua-duanya sama beratnya, sama berjuangnya, sama usahanya. Citra adalah laku, Pencitraan adalah omong kosong yang laku.

Sayangnya banyak orang yg lbh menyukai pencitraan, karena tak perlu kerja tuntas. Dan yg berusaha membangun citra justru sering kehabisan nafas, bahkan mesti berhenti laku, dan banyak yg dikenang saat sudah mati.

Tak ada yg lebih mendasar dr mengasah kejujuran diri sendiri. Banyak org pintar, seniman, aktifis, borjuis, tp tak banyak org yg jujur. Jujurlah pada diri sendiri, dan cobalah menyelesaikan tugas2 dgn tuntas, sedikit demi sedikit.

Tuhan selalu bersama mereka yg menempuh jalan yg sunyi; kejujuran.

Sunday, 11 November 2018

Terima kasih

Sudah sebulan ini saya bertahan dari rasa kecewa dan depresi yang luar biasa berat bagi saya. Silahkan, jika dianggap berlebihan. Tapi, mengalami kegagalan dan disorientasi secara berturut-turut adalah kondisi atau tahap terburuk bagi siapapun yg pernah mengalami.

Terlebih tdk ada lagi orang yg percaya kpdmu, karena kegagalan dan kesalahanmu yg lampau. Atau karena kau belum pernah mencapai kesuksesan. Kau akan terabaikan sekali lagi!

Dan yang paling berat bukanlah perasaan sendiri, tapi bgmn kau tak lg memiliki teman yg kau anggap teman. Kau menaruh harapan dan prasangka yang baik pada seseorang, namun akhirnya kau tetap saja dianggap berlebihan atau menyebalkan.

Aku tulis ini agar nanti aku tak lupa, bahwa semua itu pernah ak lalui berkali-kali, meskipun berat. Karena mulai hari ini, ak bersyukur dan percaya. Mereka yg baik bagiku, akan tetap bersamaku.

Sedikit tenang rasanya, menulis seperti ini. Disaat tak ada lagi seseorang yang bs diajak bicara. Karena siapa jg yang kuat mendengar hal-hal yang tdk penting yg bukan dari dirinya sendiri. Akhirnya, malah membuat merasa dijadikan tempat sampah dan pelampiasan saja. Berat!

Barangkali, sy tidak menyadari bahwa saya lemah dan sok ingin membantu orang lain. Atau saya terlalu ingin semua berjalan semestinya. Entahlah, sy tidak mengerti. Bagaimana sy mengingatkan ttg hal-hal yang mestinya diperbaiki, dan mana2 yg tak semestinya dilakukan. Tapi malah seperti sy yang justru memiliki masalah.

Kalau sudah begini, saya mesti diam. Diam bersama diri sendiri. Entah bagaimana nanti, dan apa yang akan terjadi. Saat ini sy hanya ingin memiliki diriku sendiri.

Maafkan ak dan diriku jika sy terus saja gagal, belum sukses atau akulah yg bermasalah bagimu.

Terima kasih.

Monday, 22 October 2018

Yang terbaik dalam hidup ternyata bukan tentang cita-cita yang tinggi, tapi  bagaimana usaha kita dalam mencapainya.  Bukan tentang keinginan-keinginan kita, tapi bagaimana kita mensyukuri apa yang telah terjadi dan kita miliki.  Terlalu naif jika kita tidak butuh materiil , tapi juga terlalu pragmatis jika kita terlalu mendewakan materiil.  Seringkali kita mesti ingat, bahwa sebagai manusia kita adalah khalifah, yang minimal mampu mengelola diri sendiri .

Hidup dalam kehidupan selalu paradoks, selalu ada ruang dilematis yang menuntut kita untuk berfikir dan bertindak,  baik secara rasional maupun irasional.  Kita diberi akal pikiran yang rumit, ditambah lagi perasaan yang tak kalah rumitnya. Manusia bisa saja tidak peduli pada  salah satunya, atau bahkan keduanya. Bisa saja Kita abai pada kebodohan kita. Bisa juga Kita abai pada kata hati Kita.

Menggali pikiran, atau mendangkalkan pikiran. Menajamkan rasa, atau menumpulkan rasa. Semua itu adalah pilihan. Pilihan-pilihan yang akhirnya menuntun kita pada jalan hidup.  Sering kali keduanya pada titik yang setara, tidak ada yang lebih baik, atau lebih buruk. Begitulah barangkali semesta bekerja dalam keseimbangan.

Apa yang terjadi, apa yang telah kita capai semua masih dalam putaran semesta. Ada cita-cita Kita di Sana, Ada keinginan Kita, Ada imajinasi, Ada usaha, Dan Ada faktor semesta lainnya seperti keberuntungan dan anugerah. Semua tak lantas terjadi begitu saja. Tidak ada kebetulan yang benar-benar kebetulan.

Daya rasa, karsa, dan cipta adalah usaha terbaik yang bisa Kita lakukan. Tentu saja tanpa mengabaikan doa, rasa syukur, dan sifat-sifat darma yang bijaksana.   Setelahnya, Kita akan terus menikmati setiap momentum kehidupan.  Bahagia-sedih, ramai-sepi, naik-turun, dan  kehidupan adalah perjalanan itu sendiri.

Bicara perjalanan adalah bicara tentang proses mencapai tujuan.  Dalam perjalanan dibutuhkan keseimbangan. Semua baiknya mesti proporsional.  Ada jarak tempuh yang mesti dilalui. Ada medan tempuh yang mesti dilewati. Ada hal-hal yang mesti dipersiapkan. Seperti tidak mungkin hanya ingin cepat sampai, tanpa melangkah.

Jika semua berimbang, kita akan bertemu pada langkah-langkah kecil,  masalah-masalah kecil, kemudian beranjak pada step-step yang terus meningkat. Inilah proses, proses yang bagaimana pun hasilnya lebih baik daripada keinginan atau angan-angan saja, bahkan ketika gagal sekalipun.

Yang terpenting jika gagal, Tetaplah berusaha. Gunakan cara-cara baru, tempuh melalui jalan-jalan baru.  Karena  berproses kemudian gagal bukanlah hal buruk. Yang buruk adalah mereka yang tidak punya proses kehidupan, untuk mereka hargai.

Saturday, 5 May 2018

Bekerja karena Tuhan dan untuk Tuhan

Seringkali hidup terdiri dari konsep-konsep sedehana yang sudah diwariskan oleh nenek moyang kita. Bagaimana untuk menjadi manusia, yang tentu saja bahagia menjalani hidupnya. Salah satunya adalah tentang ketuhanan. Pada zaman Mana pun, perabadaban bisa saja tidak memiliki pasar, sekolah, dan lain sebagainya. Tapi setiap zaman manusia pasti memiliki tempat pemujaan. Termasuk zaman pra sejarah.

Konsep kehidupan yang sederhana tapi tidak sederhana ini salah satunya adalah bekerja karena Tuhan, dan untuk Tuhan. Dari kita, pastilah ada atau mungkin banyak yang bekerja sekedarnya, bekerja ketika ada boss, merasa memiliki pekerjaan karena kemampuan diri, dan lainnya. Dari Kita, jarang dijumpai mereka yang bekerja dengan bersungguh-sungguh, mencintai pekerjaanya, bekerja dengan keihlasan, bersyukur dengan pekerjaanya, dan lain-lain.

Bekerja karena Tuhan adalah ketika Kita bisa merasa bahwa kita mendapatkan pekerjaan ini berkat Tuhan. Kemampuan yang Kita miliki karena Tuhan,  kesempatan yang Kita miliki karena Tuhan, orang-orang  baik yang memberi rekomendasi dan pekerjaan tidak lepas dari peran Tuhan. Semua usaha dan jerih payah kita berhasil karena tuhan.

Bekerja untuk tuhan adalah ketika Kita bisa ikhlas dan mensyukuri setiap pekerjaan yang Kita miliki, kemudian mengerjakan ya dengan bersungguh-sungguh.  Ketika bekerja untuk tuhan, secara otomatis kita bekerja dalam kebaikan. Boss, rekan kerja, relasi, kolega, dan lain-lain  adalah  tim untuk mencapai hasil yang ingin didapat bersama-sama.  Bekerjalah untuk tuhan, maka Tuhan akan berperan dalam pekerjaanmu.

Bekerja karena Tuhan dan untuk Tuhan tidak hanya untuk pekerjaan-pekerjaan pada umumnya. Termasuk juga pekerjaan-pekerjaan dibidang Sosial masyarakat. Meskipun menjadi pekerja sosial adalah pekerjaan yang mulia, namun jika tidak dibarengi dengan asal dan tujuannya  tdk karena Tuhan, maka apapun pekerjaannya akan sulit untuk menemukan  kecintaan, kesungguhan, dan ketenangan dalam bekerja.

Pun sebenarnya tidak hanya dalam Hal bekerja. Dari dan untuk Tuhan bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya; dalam belajar, bermasyarakat, dan lain sebagainya. Nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan yang sudah dilakukan moyang kita bertahun-tahun lalu. Rasanya sedikit demi sedikit tidak lagi menjadi hal yang sederhana.

Hari ini kita sering lupa, merasa bisa  dan memiliki hak karena usaha / kemampuan yang Kita miliki. Terlebih, sifat manusia yang cenderung ingin menguasai. Bekerja tidak lagi karena Tuhan, tapi karena merasa bisa, karena orang lain, dan karena nafsu kekuasaan. Nilai nilai kebaikan, kesungguhan, dan cinta terhadap pekerjaan pun makin lama makin luntur. Apalagi untuk ikhlas dan bersyukur.

Waktu kita orang dewasa banyak kita habiskan untuk bekerja, maka pantaslah jika pekerjaan bisa lebih mendekatkan manusia dengan tuhannya.  Begitu juga aspek-aspek lain dalam fase kehidupan; anak, remaja, hingga dewasa.

Mengubah mindset, kebiasaan, dan perilaku memang bukan pekerjaan sederhana. Namun, ini adalah salah satu konsep sederhana kehidupan. Jadi, patut dicoba!

----

Terima kasih buat  seorang teman perjalanan; mbak Luci. Terima kasih telah menginspirasi dengan obrolan-obrolannya.

Catatan untuk diri sendiri
Rusdiyan Yazid

Wednesday, 21 February 2018

Kita tidak benar-benar sedang dalam masalah, atau lebih tepatnya kamu atau aku saja yang sebenarnya bermasalah. Bukan kita. Masalah yang dianggap masalah publik, ternyata seringkali adalah masalah individu.

Barangkali, semakin hari manusia semakin individualis. Tapi, kemudian menjadi yang pertama lantang bicara tentang permasalahan-permasalahan sosial (seolah menjadi masalah bagi banyak orang). Padahal, komunitas juga enjoy-enjoy saja.

Malah, seringkali individu bicara seolah terjadi masalah di komunitas atau masyarakat. Tapi, kenyataannya individu tersebut tidak mampu memberikan perubahan yang berarti seperti perbaikan yang dikehendaki. Ada juga yang mengkomunikasikannya saja tidak mampu. Bahkan, ada individu yang ingin komunitas / masyarakat berubah, tapi dirinya sendiri tak mau berubah.

Persaingan semakin ketat, kebutuhan semakin meningkat, sedangkan lahan yang digarap semakin terbatas. Banyak orang akhirnya merasa frustasi, pesimis, kemudian mencari teman yang juga seperti dirinya, dan mereka akan semakin banyak. Bukannya, mengubah pola pikir agar tetap optimis dan bekerja lebih giat, tapi cenderung malah menyalahkan keadaan.

Satu dua orang ini, lantas menganggapnya masalah sosial. Tapi, ketika diajak untuk menyelesaikan masalah tersebut, kebanyakan memilih mundur. Bahkan, belum sampai proses penyelesaiam masalah. Untuk memberikan solusi yang kongkrit saja gak mampu. Mereka lebih suka berkelit, bahwa solusinya ada pada orang lain (pejabat, yg berwenang, dll) atau mengatakan terlalu berat untuk mengubahnya.

Terus, apa yang harus dilakukan? Hanya mengeluh tentang masalah-masalah tp juga tak pernah berusaha memperbaikinya. Sudah tahu ada masalah, bukan mencari solusi malah mencari teman yang juga merasa kalah. Akhirnya masalah tidak pernah diurai, tapi justru ditambah ruwet.

Ada juga yang merasa cukup dengan memberikan isyarat untuk waspada, agar tidak masuk dalam masalah, atau terlibat masalah yang lebih buruk. Tapi ketika individu tidak peduli pada mereka, mereka merasa sendirian, dengan masalahnya. Ya, bagaimana individu bisa tertarik dengan gelap atau tertarik untuk mengubahnya jadi terang, jika mereka saja selalu memberikan isyarat waspada. Individu akan semakin jauh atau mencari hal-hal lain yang kisahnya lebih menarik dan menjanjikan.

Ada kalimat bijak, lebih baik menyalakan sebuah lilin, daripada menghardik gelap. Mengatasi gelap bisa dimulai cukup dari satu nyala lilin. Ketika satu lilin menyala, terus jaga. Sampai akan ada yang tertarik, melihat, dan mendatangi, kemudian menyalakan lilinnya sendiri. Jika terus begitu, gelap akan bisa berubah jadi terang.

Nyala lilin ada batasnya, untuk terus menjaga nyalanya butuh lilin-lilin lainnya. Tak perlu jadi api yang membakar segalanya. Cukup jadilah lilin-lilin yang bermanfaat. Hidup yang menyala, atau urip sing urup.

Membuat api yang besar itu mudah, yang susah adalah membuat lilin-lilin yang terus bermanfaat menerangi kehidupan.
Semoga kita bagian dari lilin-lilin tersebut, bukan kobaran api besar tapi membakar apa saja hingga ludes. Semoga.

Sunday, 11 February 2018

Uang. Satu hal yang sulit, untuk tidak menjadikan diri hamba nya.  

Setiap hari apa yang kamu cari?

Berapa persen dalam keseharianmu untuk berusaha dengan tujuan uang?

Berapa persen hidupmu yang kamu habiskan hanya untuk memikirkan  tentang uang?

Atau .. ketika kamu sudah bisa memiliki keyakinan dan pola pikir bahwa uang hanyalah alat, akibat, bukan segalanya dan lain semacam itu yang intinya kamu  meyakini tidak menghamba pada uang. Coba lihat sekelilingmu.

Berapa orang yang menilaimu dari berapa mahal barang yang mampu kamu beli?

Berapa orang yang menilaimu dari berapa banyak gaji yang kamu dapat?

Berapa orang yang menilaimu dari  berapa mahal apa yang kamu pakai?

Baca kembali pertanyaan tersebut dgn pelan, dan jawab dgn jujur ..

Kemudian, lihat dirimu...

Apakah kamu disepelekan?

Apakah kamu dikucilkan?

Apakah kamu sering dibanding2kan, kemudian dituntut untuk seperti orang lain yang terlihat lebih kaya?

Apakah kamu sering merasa menjadi  (berbeda) tidak seperti orang kebanyakan?

Jika kamu merasa tidak menghamba pada uang, tapi jawaban semua keadaan diatas adalah “Tidak” maka yang pertama lingkunganmu  sudah sangat baik atau yang kedua kamu sudah selesai dengan dirimu sendiri  dan orang-,orang lain disekitarmu. Tapi jika jawabanya adalah “iya” , ya memang sulit menjadi orang yang tidak menjadi hamba uang.

Kenyataannya uang memang bukan segalanya, tapi banyak orang memenuhi segala kebutuhannya dgn uang. Mulai dari bangun tidur, sampai tidur lagi. Hari-harinya hanyalah transaksional, hidup untuk membayar tagihan. Bahkan untuk  memiliki teman, dia perlu uang, untuk bahagia, perlu uang. Sampai kemanusiaan, membantu orang lain pun perlu uang.

Mereka yang punya uang dianggap Kaya, orang Kaya bisa beli apa saja, semua orang ingin Kaya, ingin bisa memenuhi segala kebutuhannya dengan uang. Yang tidak punya uang disebut miskin,  yang tidak punya uang dianggap lemah, bahkan yang tidak punya uang dipandang tidak bahagia dan hidup akrab dengan kesulitan / masalah.

Padahal, tidak punya uang belum tentu tidak bahagia, lemah, dan banyak masalah. Begitupun orang punya uang juga belum tentu bahagia, bisa beli ini itu, dan tidak punya masalah. Orang tidak punya uang juga bisa berdaya, memenuhi kebutuhannya sendiri, menolong orang lain, dan hidup bahagia. Begitu juga orang yang punya uang juga bisa menjadi pengemis,  punya banyak masalah, butuh pertolongan, dan tidak bahagia.

Namun, kenyataannya hampir semua orang memiliki masalah keuangan.  Baik mereka yang kaya maupun yang miskin.  Yang punya uang maupun yang tidak.  Uang sudah menjadi kisah fiksi yang  menguras emosi. Sulit rasanya tidak masuk dalam kisahnya. Sulit rasanya tidak ikut merasakan senang, sedih, kecewa, marah, dan perasaan lainnya dalam menghadapi kisah fiksi uang.  Bahkan sulit rasanya menganggap bahwa uang adalah kisah fiktif, kita sudah terlampau  jauh terlibat dalam kisah hingga seolah semuanya nyata.

Sudah berapa keluarga yang retak karena uang, sudah berapa teman yang bermusuhan karena uang, sudah berapa hubungan baik jadi buruk karena uang.

Kalau bukan karena sulit untuk tidak menghamba pada uang, kenapa hal-hal tersebut masih saja terjadi. Uang bisa mengalahkan pertemanan, uang bisa mengalahkan hubungan, uang bahkan bisa mengalahkan kekeluargaan.

Kita boleh saja kecewa, marah, sedih karena permasalahan uang. Namun, yang perlu diingat, uang adalah kisah fiksi yang kita sepakati bersama.  Selayaknya kisah-kisah lainnya, setelah kisah selesai, kita harus tetap menjalani kenyataan.  Jadikan kisah uang menjadi pembelajaran, inspirasi, dan perenungan. Karena yang nyata adalah dirimu, orang lain, dan lingkunganmu.  Bukan uang.

Semoga uangmu adalah kisah terbaik. Tak peduli seberapa banyak yang kamu miliki.  

Wednesday, 7 February 2018

“Tak ada yang mudah didunia ini, namun  selalu ada kemungkinan yang bisa terjadi. “

Banyak orang beranggapan bahwa mereka yang tidak mengambil jalan seperti orang kebanyakan, pasti akan mengalami kesulitan, dan sebaliknya. Mereka yang mengambil jalan  seperti orang pada umumnya, akan lebih mudah. Misal, jika kamu mengambil kuliah jurusan seni, kamu pasti ditanya, ‘mau jadi apa nanti?’  Dan jika kamu tidak punya jawaban, kamu  akan dicerca pertanyaan lagi, ‘Kenapa gak ambil dokter saja?’ Ditambah dengan pernyataan ‘Kan  lebih jelas masa depanmu'. Padahal banyak juga contoh mereka yang sukses dibidang seni.

Jika sama-sama didukung , mau ambil seni, mau ambil dokter, dll  individu memiliki peluang yang sama, dan tentu saja sama-sama  tidak mudah.  Individu cenderung ingin berada pada titik aman, bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak mau dikucilkan karena pilihannya  tidak populer sampai dianggap tidak punya masa depan.

Jika mau jujur pada diri sendiri,  sistem  pertahanan diri kita sebenarnya sudah  terancang untuk tidak melakukan hal2 yang menyakiti diri sendiri. Jadi , mau  sebesar apapun resiko yang individu ambil, itu adalah hasil pertimbangan kemampuan yg dimiliki.  Dan itu dilakukan secara  otomatis oleh sistem pertahanan diri.

Artinya, sebenarnya yang paling tahu tentang kemampuan, keinginan, minat, dan passion individu adalah individu itu sendiri, bukan orang lain. Jadi, pilih dan lakukan  apapun sesuai kemampuan, dan jadilah diri sendiri. Jika sudah begitu, naikan standard diri sedikit demi sedikit, ambil resiko yang  paling mungkin  dihadapi dan diselesaikan.

Jadi bisa dibilang, kita hanya butuh dukungan, ruang dan keberanian untuk mengambil semuanya; konsekuensi baik dan buruk.  Dan ketika untuk menjadi baik itu  sama beratnya ketika menjadi jahat, kenapa tidak memilih yang baik?  Ketika menjadi baik dan bermanfaat bagi orang banyak itu sama sulitnya dgn menjadi baik untuk diri sendiri, Kenapa tidak berusaha bermanfaat untuk  orang banyak?

Mengenal diri adalah proses belajar seumur hidup. Menjadi lebih baik adalah tujuannya. Dan semua itu butuh dilatih, terus menerus. Semakin dilatih, semakin besar kemampuan kita menyelesaikan  permasalahan-permasalahan.  Semakin dilatih, semakin peka kita terhadap kemungkinan-kemungkinan kebaikan.  Sebaliknya, semakin tak terlatih, semakin pendek nalar, sedikit pengetahuan, minim pengalaman, dan dimensi ruang perspektif yg itu-itu saja.

Sesukses apapun individu yang  hanya pada zona nyamannya, cenderung ingin dihormati , ingin di dengar  cerita-cerita   heroiknya, dan lebih banyak menasehati. Mereka individu pembelajar, cenderung lebih melihat segala sesuatu dari sisi peluangnya, keinginan belajar yang besar kepada siapa saja, menceritakan kegagalan atau kendala yg dihadapi dan meminta nasehat atau saran dari orang yang menurutnya tepat dan lebih suka mendengar.

Tidak ada yang salah atau benar, karena tentu saja proses individu dalam hidup pasti berbeda-beda. Mereka yang merasa benar, belum tentu dilihat orang lain benar. Mereka yang merasa salah, belum tentu dilihat orang lain salah. Begitulah salah dan benar. Namun, baik tetaplah baik, buruk tetaplah buruk. Untuk itu berusahalah jadi lebih baik, bukan jadi lebih benar.

...

Meskipun hari ini kemungkinan lingkungan  yang mendukungmu kecil, tapi percayalah kemungkinan itu selalu ada. Jangan pernah merasa sendiri atau kesepian.  Terus belajar, terus lakukan yang  menurutmu baik, bagikan apa saja yg  merupakan nilai -nilai kebaikan,  temukan  teman, lingkungan, dan coba saling terhubung.

Jangan mudah menyerah pada hal-hal yang diyakini orang lain.  Mulailah jujur dengan dirimu sendiri.  Hidup bukan tentang menjadi apa yang diharapkan orang lain, tapi hidup tentang bagaimana bisa bahagia dan bermanfaat bagi orang lain.

Ini hanyalah catatan untuk diri  saya  sendiri, sebagai pengingat, bahwa saya masih dalam proses mengenal diri , proses belajar menjadi diri saya sendiri. Semoga selalu dimudahkan dalam kemungkinan-kemungkinan.

Sunday, 23 July 2017

Kita tidak pernah bisa memilih untuk dilahirkan dimana, kapan, dan siapa orang tua kita. Dari sini saja harusnya kita bisa lebih memahami bahwa kita dilahirkan dalam kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Individu yang lahir di Indonesia pada tahun 1970 an tentu proses perkembangan diri, informasi, dll berbeda jauh dengan yang lahir di tahun 2000 an. Orang yang sama-sama lahir di tahun 90 an tapi yang satu lahir di Indonesia dan yang satu lahir di Amerika tentu sudah bisa dipastikan memiliki lingkungan yang berbeda. Dari segi fisik dan budaya saja sudah berbeda.

Namun kesadaran-kesadaran sederhana seperti ini masih sering kali kita abaikan hanya untuk membenarkan diri sendiri. Sering kita paksakan apa yang menurut pengalaman kita benar kepada orang lain yang jelas-jelas memiliki pengalaman, informasi dan situasi yang berbeda. Imbasnya, kita tidak hanya lalai pada kemanusiaan (memanusiakan manusia), tapi juga kita sedang membuat lingkungan yang tidak ramah pada individu lain yang berbeda. Bahkan disadari atau tidak, ada individu-individu yang tersisih, terasingkan, tidak diterima, dan mereka bisa saja saudara kita sendiri.

Manusia adalah makhluk sosial, namun apalah artinya jika kita tidak mampu bijak dalam menyikapi perbedaan. Lingkungan menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam perkembangan individu. Artinya, kemampuan individu untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya tidak bisa lepas dari peran individu lain atau lingkungannya. Individu bisa saja sukses, bahagia, percaya diri, optimis, atau frustasi, kesepian, depresi, sedih, dll disebabkan oleh lingkungannya.

Individu tentu saja akan merasa nyaman jika berada di lingkungan yang mendukungnya, dan begitupun sebaliknya. Karena seyogyanya, individu butuh teman untuk sekedar berbagi, saling mendukung satu sama lain. Tidak terkecuali mereka yang introvert, pendiam, penyendiri, dll. Lingkungan yang paling mendasar bagi setiap individu adalah keluarga.  Keterbukaan sebuah keluarga adalah pondasi hubungan yang baik bagi setiap anggotanya. Energi positif dari keluarga-keluarga ini kemudian terakumulasi menjadi lingkungan sosial masyarakat yang mampu saling mendukung (individu) satu sama lain. Karena itu tidak heran jika ada kelompok-kelompok masyarakat yang lebih sejahtera dan tidak rentan terhadap pengaruh global daripada kelompok lainnya dalam masyarakat. Ini tidak bisa lepas dari kondisi di dalam lingkungan kelompok tersebut.

Individu sukses cenderung memiliki lingkungan yang mendukungnya. Jika mereka tidak memilikinya, mereka akan menemukan atau berhubungan dengan individu yang memiliki kebutuhan yang sama, yaitu dukungan. Kemudian bersama-sama membentuk lingkungan yang ideal bagi mereka. Jadi kesuksesan individu seringkali menjadi kesuksesan bersama (ditularkan) dalam sebuah lingkungan.

Sedangkan individu yang rentan terpengaruh, cenderung disebabkan karena lingkungan yang tidak mampu memberikan ruang maupun dukungan agar individu mampu menyelesaikan masalahnya. Justru lingkungan seringkali mengucilkannya, tidak memberikan kesempatan individu untuk bereksperesi, atau malah nggembosi – lingkungan yang skeptis. Jika individu yang terasing tidak mampu mengatasi masalahnya, maka yang terjadi adalah depresi, pesimis, frustasi, dll yang mengakibatkan prilaku-prilaku yang menyimpang seperti; bunuh diri, radikalisme, tindak kejahatan, dll

Kesadaran lingkungan sosial sangat penting bagi individu agar tetap bisa berfikir jernih, menilai secara obyektif, dan mampu mengatasi masalahnya sendiri. Kesadaran tentang lingkungan ini tidak hanya berdampak pada keluarga, masyarakat, tapi juga pada bangsa dan negara. Kesadaran lingkungan berarti mengenal tentang potensi individu pada kelompok. Kemudian, dengan kesadaran tersebut individu mampu berperan secara aktif dan optimal untuk sama-sama menggali dan mengembangkan potensi diri.

Bangsa dan negara yang kehilangan arah cenderung disebabkan karena tidak mengenal secara baik potensi yang dimiliki. Sehingga yang menjadi pijakan adalah standard dari bangsa dan negara lain, dan cenderung mengesampingkan potensi, kearifan lokal, dan budaya yang dimiliki. Imbasnya, identitas bangsa dan negara tidak menguat, namun justru memudar.

Sebagai makhluk sosial individu tidak bisa lepas dari lingkungannya. Namun, meski begitu setiap individu memiliki peran atas dirinya. Memilih masuk ke lingkungan yang seperti apa. Memilih aktif atau pasif. Semua keputusan ada pada setiap individu. Fase hidup manusia (dari anak-anak sampai dewasa) harus tetap dijalani, artinya individu harus akrab dengan perubahan. Kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan sikap kritis adalah bekal yang mendasar untuk terus survive dan berkembang dalam menghadapi berbagai macam kondisi dan situasi lingkungan sosial.

Lingkungan yang baik tidak bisa lepas dari peran individu yang baik pula. Lingkungan yang baik bagi individu belum tentu baik bagi individu lainnya. Karena pada dasarnya individu bergabung atau membentuk kelompok untuk memenuhi kebutuhannya. Untuk itu individu perlu membekali diri dengan berbagai macam pengetahuan, pengalaman, sudut pandang, sampai dengan kecerdasan emosional. Sehingga tidak hanya faktor lingkungan yang mempengaruhi individu, namun faktor dalam diri individu juga berpengaruh terhadap perkembangan individu.

Tentu saja dari dua hal (faktor lingkungan dan faktor dalam diri) yang paling penting adalah mampu menempatkan diri, luwes, dan aksi nyata. Kita bisa memulai dari menghargai diri sendiri, memberi dukungan terhadap keluarga dan teman, memberi manfaat bagi sesama, dan memulainya dari hal-hal yang sederhana sesuai dengan kemampuan.

Tidak bisa dipungkiri kita sedang berada pada lingkungan yang serba tidak nyaman, dalam arus informasi yang begitu cepat, dengan standard-standard yang tidak bisa kita mengerti. Individu dituntut untuk tetap memiliki kekuatan fisik yang kuat sekaligus psikologis yang mantap. Kelemahan saat ini bukan saja yang terlihat (secara fisik), namun juga yang tidak terlihat (lemah secara psikis).

Yang mampu mengetahui kemampuan diri; lemah atau kuat hanyalah individu. Karena itu yang pertama-tama penting untuk menguatkan diri adalah individu. Peran keluarga atau lingkungan adalah memberikan perhatian berupa dukungan, sehingga individu bisa hadir dan terbuka kapan pun jika membutuhkan.

Jika kita bukan saudara dalam satu iman, kita saudara dalam satu kemanusiaan. Hidup tidak lantas hitam dan putih. Kebijaksanaan adalah obat dari segala ketidakteraturan. Menjaga diri tetap waras di dunia yang serba gila ini saja sudah hebat. Yang penting untuk disadari, kita tidak pernah sendirian.

Teman yang sendirian, lawan yang kesepian.

Sunday, 9 July 2017

***
Kuliah tujuannya tidak melulu tentang belajar dan mencari ilmu, karena belajar bisa dari mana saja. Berguru bisa dengan siapa saja, ruang-ruang proses belajar mengajar bisa dimana saja. Kuliah seringkali hanya sekedar tuntutan-tuntutan dan proses untuk memenuhi tuntutan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Tentu saja alasan orang berbeda beda dalam memutuskan untuk berkuliah. Ada yang karena untuk mewujudkan karir atau profesi yang diinginkan. Ada yang mengikuti saran dari orang tua atau orang yang dianggap berhasil dalam atau setelah berkuliah. Ada juga yang menjadikan perkuliahan sebagai media dan saranasesuai dengan kepentingan individu.

Alasan menjadi jawaban mendasar seseorang menganggap kuliah penting atau tidak. Bahkan individu bisa menganggap kuliah itu tidak penting saat menempuh atau selesai berkuliah. Sebaliknya, individu bisa berubah dari kuliah itu tidak penting menjadi kuliah itu penting, meskipun individu tersebut akhirnya tetap saja tidak berkuliah.  

Perkuliahan tentu saja identik dengan pilihan. Memilih kampus, jurusan, dan termasuk juga lulus tepat waktu atau tidak merupakan pilihan. Proses-proses tersebutlah yang sebenarnya lebih banyak akan mempengaruhi hasil dari perkuliahan. Karena tidak mungkin hasil jauh dari apa yang mendasarinya.

Memutuskan tidak berkuliah adalah pilihan, tapi belajar tidak. Disadari atau tidak setiap hari kita melakukan proses belajar, membaca, dan berdialektika. Namun intensitas dan kadar belajar seseorang setiap hari berbeda-beda. Ini yang kemudian berpengaruh pada kondisi kognitif, mental, dan prilaku seseorang.

Kuliah atau tidak individu pasti akan bekerja juga, mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang dilakukan. Kuliah atau tidak individu tetap menjadi bagian dari sosial masyarakat. Kuliah atau tidak individu sama-sama bisa menjadi guru, tauladan, juragan dan lain sebagainya. Begitu juga sebaliknya, kuliah atau tidak individu bisa melakukan tindak kejahatan, amoral, dan lain sebagainya.

Kuliah atau tidak adalah pilihan sebelum menjalani proses selanjutnya. Kuliah atau tidak memiliki kesempatan berproses yang sama; memilih lingkungan, tujuan, jalan mencapai tujuan tersebut, dan lain sebagainya.

Namun begitu, individu sering kali terjebak dalam status sosial yang melabeli individu, baik yang kuliah maupun yang tidak. Individu yang kuliah dilabeli dengan mahasiswa, sedangkan yang tidak dilabeli dengan pekerja bagi yang bekerja dan pengangguran bagi yang tidak memiliki pekerjaan.

Seringkali karena status mahasiswanya, individu hanya belajar apa saja yang ada didalam di kampus. Begitu juga dengan individu yang tidak berkuliah, setiap hari hanya melakukan rutinitas pekerjaan. Individu terjebak di statusnya sebagai mahasiswa atau pekerja, sehingga dimensi ruang belajar-mengajar (transfer pengetahuan) semakin sempit.

Mahasiswa setelah lulus kuliah seringkali harus menyesuaikan diri kedalam masyarakat maupun dunia kerja. Peran dan tugas saat menjadi mahasiswa; karya ilmiah berupa punulisan dan pemahaman teori-teori seringkali tidak diaplikasikan dalam dunia kerja dan masyarakat ketika mahasiswa telah lulus dan masuk dalam dunia tersebut.

Para pekerja non kuliah seringkali hanya melakukan langkah-langkah praktis. Mereka lebih bersikap pasif dalam hal inovasi. Meskipun individu memiliki kesempatan, namun karena terjebak dalam status pekerja, individu yang tidak berkuliah tidak mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. 

Para mahasiswa pada akhirnya juga akan melakukan interaksi dengan individu yang tidak berkuliah. Dan, pada titik inilah seharusnya ada proses saling belajar antara yang berkuliah dan yang tidak berkuliah. Namun, seringkali yang terjadi adalah proses belajar satu arah. Entah karena apa yang dulu pernah dipelajari di dunia perkuliah sangat berbeda dengan yang dihadapi ketika masuk dunia kerja, sehingga tidak mungkin mentransfer pengetahuannya. Atau karena sistem kerja yang tidak memungkinkan para pekerja non kuliah untuk belajar dari para lulusan perkuliahan.

Memilih kuliah atau tidak toh sama-sama menjadi bagian dari sistem industri yang besar. Mahasiswa menjadi bagian dari industri pendidikan, sedangkan yang tidak berkuliah sebagai karyawan menjadi bagian dari industri lainnya.

Kemudian selain di industri yang besar, mahasiswa dan non mahasiswa juga berlomba-lomba menjadi pebisnis (wiraswasta atau enterpreuner). Bedanya, mahasiswa harus mengeluarkan modal 2x untuk biaya kuliah dan modal bisnis.Sedangkan yang tidak berkuliah harus extra energi untuk memulai bisnis karena keterbatasan jaringan dan orientasi-referensi.


Pada akhirnya kuliah atau tidak bukanlah suatu hal yang perlu dikhawatirkan atau dipermasalahkan. Yang terpenting adalah bagaimana menjadi individu yang mampu mengoptimalkan potensi diri. Kemudian bersama saling berkontribusi, membantu, dan bermanfaat satu sama lain.

Kuliah atau Tidak, Kita Masih di 'Universe'-Alam Semesta yang Sama

Popular Posts

Powered by Blogger.