Entah mesti bagaimana, dan kemana lagi aku ini. Seperti sudah tak punya daya untuk berjuang dalam belantara rimba kehidupan manusia yang kebanyakan mencari harta, kekayaan, kekuasaan, kekuatan, atau kepintaran. Tapi nir kebaikan, surplus kepentingan dan arogansi.
Hanya mampu hidup seadanya, bertahan semampunya. Di jaman kebaikan dan perjuangan tak dihargai. Cinta dan kasih dianggap usang. Ketulusan tak laku, dan perhatiaan juga kepedulian dianggap kerugian.
Buah kehidupan adalah harta, harta, dan harta. Usia menjadi jaminannya. Seolah kebahagiaan harus hari ini, seketika, sekarang juga. Bagaimana pun caranya. Tak peduli esok mati meninggalkan beban bagi orang lain. Kok esok, sekarang pun tidak berfikir tentang orang lain. Rasa tali kasih tlah mati, habis terlalap api keegoisan diri sendiri.
Semakin ditinggalkan orang, semakin besar kepalanya. Semua dianggapnya tak berguna, dianggapnya iri, dianggapnya tak memiliki semangat realistis seperti dirinya dan orang kebanyakan. Entah bagaimana orang-orang berlomba membutakan hatinya. Yang tersingkir, semakin tersingkir. Yang terkalahkan, semakin kalah.
Punya mata, tapi buta. Punya telinga, tapi tuli. Punya mulut, tapi bungkam. Orang-orang yg melihat, yg mendengar, yg bicara tak ubahnya sampah yg tak perlu dihiraukan. Hati nurani pun mati. Justru yang dianggap sampah, adalah yang selama ini memberikan hidupnya, keberkahannya, kasihnya pada semesta, melalui tindakannya, budinya, dan hatinya.
Entah, mesti bagaimana lagi. Baru mencoba jadi orang baik pun sulitnya bukan main. Entah mesti kemana lagi. Menyalakan suluh pun tak mampu. Kemarin, ada satu harapan. Tentang tujuan, tentang peraduan, tentang penerimaan. Tapi nyatanya, semuanya pun kandas.
Entah mesti bagaimana, dan kemana aku ini.
0 comments:
Post a Comment