kawan yang sendirian, lawan yang kesepian

Sunday, 30 December 2018

Dear, orang-orang terkasih yang menghawatirkan pekerjaanku.

Aku bekerja selayaknya bernafas. Jika dalam bernafas ada menarik dan mengeluarkan. Seyogyanya bekerja adalah sama seperti mengeluarkan nafas. Dan bagiku menarik nafas adalah bagian pembelajaranku. Belajar dan bekerja adalah proses bernafas.

Jika sekarang yang kau permasalahkan adalah penghasilanku berupa uang. Bagiku uang adalah alat, penghasilan adalah konsekuensi. Untuk mendapatkan alat berupa uang diperlukan bekerja, saya sepakat. Tapi jika yang kau permasalahkan uang tersebut kenapa tidak ku gunakan untuk beli motor, dll yg menurutmu bisa melegakan hatimu. Saya memilih menggunakan alat untuk membantuku melegakan hatiku, bukan hatimu. Pun jika uangmu kau gunakan untuk melegakan hatimu, aku tak akan mengganggu.

Karena bekerja adalah nafas bagiku, maka setidaknya nafas ini tak pernah mampet. Jika aku menghirup oksigen, aku mengeluarkan karbondioksida. Jika aku belajar, maka aku bekerja. Jadi uang bukan alasan untuk bekerja. Tapi, jika dalam aku belajar dan bekerja, ada hasil berupa uang, artinya aku mendapatkan alat. Alat untuk apa? Untuk berbagi kebahagiaan.

Dari belajar dan bekerja, aku bisa mendapat pengalaman, kenyamanan, kebahagiaan, ruang tumbuh, teman, hasil karya dan hal-hal baik lainnya. Jadi selain uang, masih banyak hal yang akhirnya memperlancar tubuh untuk hidup dan berkembang lebih baik selayaknya jika udara yang kita hirup belum terkontaminasi polusi, segar menyegarkan.

Jadi, terima kasih telah menghawatirkanku. Dan ku pikir, aku belum menemukan konsep bekerja senyaman ini sejauh ini. Mungkin kita hanya berbeda cara, tapi bukan berarti kekhawatiran berubah menjadi ketidakpedulian. Hiduplah dengan caramu, aku hidup dengan caraku. Dan kita masih bisa saling berbagi kebahagiaan dan keindaahan.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Powered by Blogger.