Kepedulian telah mati.
Baru ku rasakan bagaimana orang yang peduli justru salah, keliru, dan tak pantas. Menyedihkan. Justru yang baik adalah masa bodoh dan cuek, walaupun di hadapannya adalah masalah yang nyata. Meskipun persoalanya tentang moril ataupun perkara hati. Namun, begitu mengganjal. Mempengaruhi kehidupan, terutama psikis.
Melihat kesalahan pun tak bisa melakukan apa-apa. Masuk dalam kesalahan pun sudah tak sanggup. Tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya mendoakan agar minimal tak terpengaruh. Kepedulian pun tak lagi menemukan peraduannya. Mereka banyak tersimpan dalam batin orang-orang baik yang memilih menyingkir dan pergi. Berhenti peduli.
Orang-orang yang peduli, kemudian berhenti. Bukanlah suatu perkara yang mudah. Ada banyak hal yang diolah dan dibenturkan dalam pikiran. Pikiran dan hati saling berjibaku, mengolah banyak hal yang betul2 menguras energi. Terus hingga mentok pada ujung; berhenti peduli.
Kepedulian bagi sebagian orang adalah bentuk penghargaan yg tertinggi. Bentuk cinta dari kasih sayang yang tulus. Kepedulian adalah kemesraan. Tak bisa dibandingkan dengan apapun.
Namun, kepedulian hari ini menjadi hal yang justru rumit. Orang-orang merasa baik, peduli, tanpa kepentingan, ternyata peduli hanya saat-saat tertentu. Saat dibutuhkan justru tak peduli.
Orang-orang yang hanya peduli ketika ada kepentingan, justru dipopulerkan, mewajarkannya, bahkan semakin hari semakin banyak orang yang seperti ini.
Orang yang betul2 peduli, justru seringkali terasingkan. Karena kepeduliannya hadir setiap saat, kapanpun. Hingga tak dirasakan orang lain kepedulian itu. Seperti bernafas, kita tak merasakan udara yang kita hirup. Baik dibutuhkan atau tidak. Kepedulian senantiasa mengalir.
Orang yang benar2 peduli seringkali terlempar. Karena kepeduliannya tidak terbatas kepentingan. Sehingga terlihat pun tidak. Tak dikenal, tak penting. Ketulusannya membuatnya lebih peka pada kondisi dan keadaan. Seringkali malah dianggap masalah karena kepekaan dan ketulusan tersebut. Yang mau tidak mau mesti pergi dan membawa kepeduliannya.
Orang seringkali lupa menghargai udara yang setiap detik kita hirup, begitu juga kepedulian orang lain yang tulus. Seringkali kita tidak bersyukur, dengan menjaga dan juga memberikan timbal balik yang minimal sepadan.
Semakin hari kepedulian semakin tak dipedulikan.
0 comments:
Post a Comment