kawan yang sendirian, lawan yang kesepian

Sunday, 19 May 2019

Cinta, apa makna namamu sesungguhnya? Tak usah kau jawab dengan normatif, jawab menurutmu saja. Kau sudah dewasa, sekolah dan universitas pun tamat. Sekarang kau bekerja pada negara, kau bahkan punya suara di kementerian dalam usiamu yang terbilang cukup muda. Apa? Apa Cinta bagimu?

Sudah? Apa penting semua tentangku itu pada jawabanku? Mate, kau bertanya tentang makna namaku? Atau tentang cinta?

Kalau kau tanya makna namaku, aku ragu mampu menjawabnya. Kau mestinya bertanya pada ayahku. Orang tua yang memberi namaku. Seperti namamu juga kan? Mate, nama pemberian. Atau, kau sudah ubah namamu itu barangkali dari Mamat jadi Mate? Agar kau bisa berbaur dengan orang-orang barat, dimana kau habiskan kuliahmu di sana.

Hahaha.. Sial kau ta.. Aku bertanya tentang Cinta yang kebetulan juga namamu. Dan, kau kan tahu namaku Mate Sebastian.

Haha, cinta bagiku berbeda dengan namaku. Jujur saja, jika boleh memilih, aku ingin dinamai nama yang selain cinta, apapun yang penting bukan cinta. Tapi, cukuplah berbicara nama. Apalah arti nama, selain doa dan harapan si pemberi nama. Tetap saja, identitas dirimu yang utama adalah bagaimana perilakumu.

Lalu, menurutmu cinta itu?

Bagiku mate, Cinta itu seperti oksigen. Dia barangkali punya nama untuk disebut, dia barangkali punya deskripsi. Tapi, yang utama bukan nama atau sebutan itu. Tapi, bagaimana dia bekerja dalam arus utama kehidupanmu. Kita tahu kan, tanpa oksigen kita tak bisa bernafas. Tapi, berapa kali kau menyebutnya? Seperti kau umbar kata cintamu? Dan, dengan gampangnya kau hari ini cinta, besok tidak. Kau pikir cinta itu seperti shift kerja?

Tak salah aku bertanya padamu Cinta. Aku juga merasa cinta sekarang dianggap dagangan. Jika meminjam analogi-mu. Barangkali, udara kita memang sudah sangat tercemar, hingga hidung kita sudah terbiasa menghirup racun dan tanpa disadari lambat laun mencekik leher. Karena itu, oksigen diperdagangkan pun tak laku. Atau orang sudah tak mengenali lagi oksigen.

Ya, itulah kenapa kau bertanya apa itu cinta. Kau sudah tak mengenalnya?

Haha. Aduh Cinta, kau ini sudah cantik, baik, juga selalu punya jawaban yang melegakan. Seandainya kau perempuan sederhana, tentu sudah dari dulu aku berani mendekatimu.

Eits, memang aku gak sederhana? Cukuplah kau menilaiku dari penampilan. Atau dari apa kata orang-orang yang tak mengenalku. Kau ini kupikir sudah mengenalku.

Eh, sebentar.. Aku hanya bergurau saja, atau barangkali aku terlambat untuk berani. Tak mendekatimu sejak dulu.

Hahaha.. Kesempatan yang sama tidak datang terus menerus, tapi mungkin bisa kau menjumpai kesempatan yang lebih baik nanti. Yang artinya tidak ada yang terlambat. Tak ada kata terlambat bagi orang-orang yang senang belajar, barangkali termasuk orang sepertimu.

Terima kasih Cinta.

Hah, traktirlah aku untuk terima kasihmu.

Ah, siaplah itu. Apa yang tidak untuk teman diskusi dan sahabat sepertimu Cinta.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Powered by Blogger.