kawan yang sendirian, lawan yang kesepian

Sunday, 2 June 2019

Kau tahu tuan,

Dalam setahun hari apa yang paling menyeramkan bagi hamba? Dialah hari dimana orang-orang merayakan kembalinya kesucian, hari yang fitri, berlebaran setelah setahun berceceran kesalahan dan dosa.

Iya tuan, mestinya aku bahagia karena hari tersebut adalah hari kemenangan. Namun, apa yang mesti hamba menangkan tuan? Sedangkan hamba tak pernah mampu bersaing, tak pernah ingin bertarung.

Kalau menang dari sifat-sifat buruk, mengalahkan sifat malas, kebodohan, dan lain-lain. Hamba masih jauh dari kemenangan tuan, masih amat sangat jauh. Sedangkan orang-orang gegap gempita merayakan kemenangannya. Hamba ini tak sanggup mengimbangi mereka tuan. Hamba justru selalu merasa paling kalah, tak punya apa-apa, dan tak mampu berbuat apa-apa.

Hamba tak suci, dan barangkali akan selamanya ditempat ini, tempatnya salah. Sulit rasanya bagi hamba untuk berfikir telah sampai pada hari kemenangan.

Tuan, apakah memang peran saya begini. Biar orang-orang bisa mengasihani hamba, biar orang bisa merasa lebih baik kehidupannya, lebih baik keluarganya, dan lain sebagainya. Jika memang begitu, tak mengapa tuan. Biarlah seperti itu. Aku lega jika memang seperti itu.

Tapi bolehkah hamba meminta satu permohonan tuan, maafkan hamba jika lancang tak menganggap spesial hari besarmu. Bukan maksudku merasa jumawa tuan, bukan. Hamba hanya tak tahu cara yang tepat memaknainya. Maafkan hamba tuan, ampuni hamba untuk hari idul fitri yang lalu dan yang akan datang nanti, karena aku tak mampu merayakannya seperti orang-orang.

Mohon maaf tuan atas apa yang lahir dan apa yang batin dari hamba. Untuk yang kemarin, hari ini, dan nanti.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Powered by Blogger.