kawan yang sendirian, lawan yang kesepian

Wednesday, 21 February 2018

Kita tidak benar-benar sedang dalam masalah, atau lebih tepatnya kamu atau aku saja yang sebenarnya bermasalah. Bukan kita. Masalah yang dianggap masalah publik, ternyata seringkali adalah masalah individu.

Barangkali, semakin hari manusia semakin individualis. Tapi, kemudian menjadi yang pertama lantang bicara tentang permasalahan-permasalahan sosial (seolah menjadi masalah bagi banyak orang). Padahal, komunitas juga enjoy-enjoy saja.

Malah, seringkali individu bicara seolah terjadi masalah di komunitas atau masyarakat. Tapi, kenyataannya individu tersebut tidak mampu memberikan perubahan yang berarti seperti perbaikan yang dikehendaki. Ada juga yang mengkomunikasikannya saja tidak mampu. Bahkan, ada individu yang ingin komunitas / masyarakat berubah, tapi dirinya sendiri tak mau berubah.

Persaingan semakin ketat, kebutuhan semakin meningkat, sedangkan lahan yang digarap semakin terbatas. Banyak orang akhirnya merasa frustasi, pesimis, kemudian mencari teman yang juga seperti dirinya, dan mereka akan semakin banyak. Bukannya, mengubah pola pikir agar tetap optimis dan bekerja lebih giat, tapi cenderung malah menyalahkan keadaan.

Satu dua orang ini, lantas menganggapnya masalah sosial. Tapi, ketika diajak untuk menyelesaikan masalah tersebut, kebanyakan memilih mundur. Bahkan, belum sampai proses penyelesaiam masalah. Untuk memberikan solusi yang kongkrit saja gak mampu. Mereka lebih suka berkelit, bahwa solusinya ada pada orang lain (pejabat, yg berwenang, dll) atau mengatakan terlalu berat untuk mengubahnya.

Terus, apa yang harus dilakukan? Hanya mengeluh tentang masalah-masalah tp juga tak pernah berusaha memperbaikinya. Sudah tahu ada masalah, bukan mencari solusi malah mencari teman yang juga merasa kalah. Akhirnya masalah tidak pernah diurai, tapi justru ditambah ruwet.

Ada juga yang merasa cukup dengan memberikan isyarat untuk waspada, agar tidak masuk dalam masalah, atau terlibat masalah yang lebih buruk. Tapi ketika individu tidak peduli pada mereka, mereka merasa sendirian, dengan masalahnya. Ya, bagaimana individu bisa tertarik dengan gelap atau tertarik untuk mengubahnya jadi terang, jika mereka saja selalu memberikan isyarat waspada. Individu akan semakin jauh atau mencari hal-hal lain yang kisahnya lebih menarik dan menjanjikan.

Ada kalimat bijak, lebih baik menyalakan sebuah lilin, daripada menghardik gelap. Mengatasi gelap bisa dimulai cukup dari satu nyala lilin. Ketika satu lilin menyala, terus jaga. Sampai akan ada yang tertarik, melihat, dan mendatangi, kemudian menyalakan lilinnya sendiri. Jika terus begitu, gelap akan bisa berubah jadi terang.

Nyala lilin ada batasnya, untuk terus menjaga nyalanya butuh lilin-lilin lainnya. Tak perlu jadi api yang membakar segalanya. Cukup jadilah lilin-lilin yang bermanfaat. Hidup yang menyala, atau urip sing urup.

Membuat api yang besar itu mudah, yang susah adalah membuat lilin-lilin yang terus bermanfaat menerangi kehidupan.
Semoga kita bagian dari lilin-lilin tersebut, bukan kobaran api besar tapi membakar apa saja hingga ludes. Semoga.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Powered by Blogger.