kawan yang sendirian, lawan yang kesepian

Sunday, 11 February 2018

Uang. Satu hal yang sulit, untuk tidak menjadikan diri hamba nya.  

Setiap hari apa yang kamu cari?

Berapa persen dalam keseharianmu untuk berusaha dengan tujuan uang?

Berapa persen hidupmu yang kamu habiskan hanya untuk memikirkan  tentang uang?

Atau .. ketika kamu sudah bisa memiliki keyakinan dan pola pikir bahwa uang hanyalah alat, akibat, bukan segalanya dan lain semacam itu yang intinya kamu  meyakini tidak menghamba pada uang. Coba lihat sekelilingmu.

Berapa orang yang menilaimu dari berapa mahal barang yang mampu kamu beli?

Berapa orang yang menilaimu dari berapa banyak gaji yang kamu dapat?

Berapa orang yang menilaimu dari  berapa mahal apa yang kamu pakai?

Baca kembali pertanyaan tersebut dgn pelan, dan jawab dgn jujur ..

Kemudian, lihat dirimu...

Apakah kamu disepelekan?

Apakah kamu dikucilkan?

Apakah kamu sering dibanding2kan, kemudian dituntut untuk seperti orang lain yang terlihat lebih kaya?

Apakah kamu sering merasa menjadi  (berbeda) tidak seperti orang kebanyakan?

Jika kamu merasa tidak menghamba pada uang, tapi jawaban semua keadaan diatas adalah “Tidak” maka yang pertama lingkunganmu  sudah sangat baik atau yang kedua kamu sudah selesai dengan dirimu sendiri  dan orang-,orang lain disekitarmu. Tapi jika jawabanya adalah “iya” , ya memang sulit menjadi orang yang tidak menjadi hamba uang.

Kenyataannya uang memang bukan segalanya, tapi banyak orang memenuhi segala kebutuhannya dgn uang. Mulai dari bangun tidur, sampai tidur lagi. Hari-harinya hanyalah transaksional, hidup untuk membayar tagihan. Bahkan untuk  memiliki teman, dia perlu uang, untuk bahagia, perlu uang. Sampai kemanusiaan, membantu orang lain pun perlu uang.

Mereka yang punya uang dianggap Kaya, orang Kaya bisa beli apa saja, semua orang ingin Kaya, ingin bisa memenuhi segala kebutuhannya dengan uang. Yang tidak punya uang disebut miskin,  yang tidak punya uang dianggap lemah, bahkan yang tidak punya uang dipandang tidak bahagia dan hidup akrab dengan kesulitan / masalah.

Padahal, tidak punya uang belum tentu tidak bahagia, lemah, dan banyak masalah. Begitupun orang punya uang juga belum tentu bahagia, bisa beli ini itu, dan tidak punya masalah. Orang tidak punya uang juga bisa berdaya, memenuhi kebutuhannya sendiri, menolong orang lain, dan hidup bahagia. Begitu juga orang yang punya uang juga bisa menjadi pengemis,  punya banyak masalah, butuh pertolongan, dan tidak bahagia.

Namun, kenyataannya hampir semua orang memiliki masalah keuangan.  Baik mereka yang kaya maupun yang miskin.  Yang punya uang maupun yang tidak.  Uang sudah menjadi kisah fiksi yang  menguras emosi. Sulit rasanya tidak masuk dalam kisahnya. Sulit rasanya tidak ikut merasakan senang, sedih, kecewa, marah, dan perasaan lainnya dalam menghadapi kisah fiksi uang.  Bahkan sulit rasanya menganggap bahwa uang adalah kisah fiktif, kita sudah terlampau  jauh terlibat dalam kisah hingga seolah semuanya nyata.

Sudah berapa keluarga yang retak karena uang, sudah berapa teman yang bermusuhan karena uang, sudah berapa hubungan baik jadi buruk karena uang.

Kalau bukan karena sulit untuk tidak menghamba pada uang, kenapa hal-hal tersebut masih saja terjadi. Uang bisa mengalahkan pertemanan, uang bisa mengalahkan hubungan, uang bahkan bisa mengalahkan kekeluargaan.

Kita boleh saja kecewa, marah, sedih karena permasalahan uang. Namun, yang perlu diingat, uang adalah kisah fiksi yang kita sepakati bersama.  Selayaknya kisah-kisah lainnya, setelah kisah selesai, kita harus tetap menjalani kenyataan.  Jadikan kisah uang menjadi pembelajaran, inspirasi, dan perenungan. Karena yang nyata adalah dirimu, orang lain, dan lingkunganmu.  Bukan uang.

Semoga uangmu adalah kisah terbaik. Tak peduli seberapa banyak yang kamu miliki.  

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Powered by Blogger.