kawan yang sendirian, lawan yang kesepian

Monday, 22 October 2018

Yang terbaik dalam hidup ternyata bukan tentang cita-cita yang tinggi, tapi  bagaimana usaha kita dalam mencapainya.  Bukan tentang keinginan-keinginan kita, tapi bagaimana kita mensyukuri apa yang telah terjadi dan kita miliki.  Terlalu naif jika kita tidak butuh materiil , tapi juga terlalu pragmatis jika kita terlalu mendewakan materiil.  Seringkali kita mesti ingat, bahwa sebagai manusia kita adalah khalifah, yang minimal mampu mengelola diri sendiri .

Hidup dalam kehidupan selalu paradoks, selalu ada ruang dilematis yang menuntut kita untuk berfikir dan bertindak,  baik secara rasional maupun irasional.  Kita diberi akal pikiran yang rumit, ditambah lagi perasaan yang tak kalah rumitnya. Manusia bisa saja tidak peduli pada  salah satunya, atau bahkan keduanya. Bisa saja Kita abai pada kebodohan kita. Bisa juga Kita abai pada kata hati Kita.

Menggali pikiran, atau mendangkalkan pikiran. Menajamkan rasa, atau menumpulkan rasa. Semua itu adalah pilihan. Pilihan-pilihan yang akhirnya menuntun kita pada jalan hidup.  Sering kali keduanya pada titik yang setara, tidak ada yang lebih baik, atau lebih buruk. Begitulah barangkali semesta bekerja dalam keseimbangan.

Apa yang terjadi, apa yang telah kita capai semua masih dalam putaran semesta. Ada cita-cita Kita di Sana, Ada keinginan Kita, Ada imajinasi, Ada usaha, Dan Ada faktor semesta lainnya seperti keberuntungan dan anugerah. Semua tak lantas terjadi begitu saja. Tidak ada kebetulan yang benar-benar kebetulan.

Daya rasa, karsa, dan cipta adalah usaha terbaik yang bisa Kita lakukan. Tentu saja tanpa mengabaikan doa, rasa syukur, dan sifat-sifat darma yang bijaksana.   Setelahnya, Kita akan terus menikmati setiap momentum kehidupan.  Bahagia-sedih, ramai-sepi, naik-turun, dan  kehidupan adalah perjalanan itu sendiri.

Bicara perjalanan adalah bicara tentang proses mencapai tujuan.  Dalam perjalanan dibutuhkan keseimbangan. Semua baiknya mesti proporsional.  Ada jarak tempuh yang mesti dilalui. Ada medan tempuh yang mesti dilewati. Ada hal-hal yang mesti dipersiapkan. Seperti tidak mungkin hanya ingin cepat sampai, tanpa melangkah.

Jika semua berimbang, kita akan bertemu pada langkah-langkah kecil,  masalah-masalah kecil, kemudian beranjak pada step-step yang terus meningkat. Inilah proses, proses yang bagaimana pun hasilnya lebih baik daripada keinginan atau angan-angan saja, bahkan ketika gagal sekalipun.

Yang terpenting jika gagal, Tetaplah berusaha. Gunakan cara-cara baru, tempuh melalui jalan-jalan baru.  Karena  berproses kemudian gagal bukanlah hal buruk. Yang buruk adalah mereka yang tidak punya proses kehidupan, untuk mereka hargai.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Powered by Blogger.