kawan yang sendirian, lawan yang kesepian

Monday, 12 November 2018

Omong kosong itu berbunyi citra.

Saya tak peduli seberapa populer seseorang, ketika memang karena karyanya sendiri. Bisa sungguh bertanggung jawab atas apa-apa yg dicitrakannya.  Bukan cuma seperti motivator yang terlalu banyak bicara tapi kosong dalam perbuatan. Atau seperti para teoritis yang tak mampu menyelesaikan masalahnya dalam kenyataan.

Bagaimana mungkin bisa bertanggung jawab pada orang lain, jika pada diri sendiri seenaknya saja. Bagaimana bisa mengapresiasi segala yang membantu dan membersamai, jika pikiran jujur saja tdk punya. Yg terjadi justru kebohongan, kepura-puraan, kekacauan dan palsu pencitraan.

Jauh cita-cita menginspirasi bisa terwujud. Karena inspirasi datang dari hati yg sejati. Yang hadir melalui wujud prilaku sehari-hari. Barangkali, hari ini citra omong kosong bisa membuat orang terpaku, terpana, kemudian orang tergerak untuk berbuat yang serupa. Tapi, semua itu tak akan sampai ke hati yg sejati. Kita bisa bicara, bergerak, dan menginspirasi orang lain. Tapi, tdk semua org menaruh hatinya disana, pada orang-orangnya, pada gerak dan sikapnya, dan pada hubungan-hubungan baik yg menyertainnya.

Yang paling menyedihkan adalah bagaimana hilangnya rasa malu, tak peduli, dan merasa semua seolah keadaan yg disalahkan. Bisanya mengabaikan tanggung jawab, tapi terus saja memupuk citra perjuangan. Sungguh penuh dengan kepalsuan. Sampai hilang kejujuran pada diri sendiri.

Citra adalah penilaian. Tak ada nilai baik, tanpa menyelesaikan persoalan dgn tuntas. Pencitraan adalah cara agar orang lain menilai sesuai bagaimana apa yg ingin dicitrakan. Pencitraan tak perlu menyelesaikan persoalan, berpura-pura dan seolah-olah saja sudah cukup. Tinggal brp banyak pengulangannya. Semakin sering berpura-pura, semakin besar peluang keberhasilannya.

Citra akan abadi & dikenang. Pencitraan hanya akan terus menambah pekerjaan rumah. Dua-duanya sama beratnya, sama berjuangnya, sama usahanya. Citra adalah laku, Pencitraan adalah omong kosong yang laku.

Sayangnya banyak orang yg lbh menyukai pencitraan, karena tak perlu kerja tuntas. Dan yg berusaha membangun citra justru sering kehabisan nafas, bahkan mesti berhenti laku, dan banyak yg dikenang saat sudah mati.

Tak ada yg lebih mendasar dr mengasah kejujuran diri sendiri. Banyak org pintar, seniman, aktifis, borjuis, tp tak banyak org yg jujur. Jujurlah pada diri sendiri, dan cobalah menyelesaikan tugas2 dgn tuntas, sedikit demi sedikit.

Tuhan selalu bersama mereka yg menempuh jalan yg sunyi; kejujuran.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Powered by Blogger.