Berhentilah berfikir bahwa orang lain yang kaya maka bisa kita pinjam uangnya, orang lain baik, maka kita bisa seenaknya minta bantuan kepadanya. Orang lain tersebut juga punya urusan, punya kebutuhan, punya tanggung jawab.
Jika mereka hari ini lebih mudah rizkinya dari kamu, berarti mereka juga lebih sabarnya, lebih usahanya. Bukan berarti mereka tak punya keinginan senang-senang, liburan, dll tapi mereka merasa masih banyak hal yang mesti diprioritaskan. Bukan berarti mereka tak bisa hidup mewah, tapi mereka berusaha lebih berhemat, bagaimana urusan dengan orang lain atau tanggungjawab lebih diutamakan.
Sudah terlalu banyak pertemanan, persaudaraan rusak karena hutang, yang biasanya bukan karena nominalnya. Tapi karena sikap kita yang menyepelekan hutang, yang berhutang / dibantu lebih galak atau lebih cuek daripada yang memberi hutang. Bukan menyindir, tapi seringkali dari sini lah, sebab hubungan jadi tidak baik.
Bahkan ada istilah, jika kamu ingin tahu karakter seseorang yang sesungguhnya, cobalah berurusan uang dengannya. Karena memang, uang bisa membuat orang lupa diri. Sehingga muncul karakter aslinya. Yang baik, akan berusaha membalas kebaikan orang lain. Yang tidak baik, malah bertindak arogan, dan menganggap dirinya benar. Hingga yang pernah membantunya pun malas berurusan lagi. Akhirnya, rusaklah hubungan persaudaraan dan pertemanan.
Jika kita masih dalam kondisi yang kekurangan, sulit, dan lemah. Mestinya kita belajar pada mereka yang lebih. Belajar bagaimana lebih keras berusaha, lebih bersabar, lebih kuat menghadapi segala sesuatu, berusaha lebih bertanggung jawab, dan utamakan kebutuhan daripada keinginan.
Belajarlah dari orang lain, bukan malah mencederai kebaikan orang lain. Mungkin kamu, bisa bertemu seribu orang baik baru dan berganti-ganti yang bisa kamu manfaatkan. Tapi kamu tidak akan pernah pernah mendapatkan satu pun manfaat yang sejati dari siapapun.
Orang baik kepadamu itu karena mereka baik, bukan bodoh.
0 comments:
Post a Comment